Mohammad Adlany
Membangun Pandangan Dunia Ilahi

Manusia memiliki kapasitas tak berhingga. Potensi, bakat, dan kecenderungannya tidak berhenti pada batas tertentu. Ia adalah makhluk yang memiliki keinginan tak terbatas dalam mencari segala kesempurnaan dan kebahagiaan. Hal ini merupakan perkara alami dan fitri manusia yang tidak dapat dipungkiri. Tak seorang pun menginginkan kekurangan dan kelemahan. Apa yang dilakukan manusia adalah bertujuan menyirnakan segala bentuk kelemahan dan kekurangan demi meraih kesempurnaan dan kebahagiaan setinggi tingginya yang abadi dan kekal. Jika kecenderungan alami ini berproses dalam koridor yang sehat dan benar serta terarah, niscaya manusia dapat mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan abadi yang dikehendakinya, baik yang bersifat material maupun spiritual. Perbedaan di antara individu manusia itu terletak dalam penentuan bentuk nyata kesempurnaan dan kebahagiaan yang bersumber dari perbedaan kualitas pengetahuan dan makrifat yang dimilikinya.

Akal, Instrumen Penentu Kesempurnaan Hakiki

Proses kesempurnaan yang terjadi pada tumbuhan dan binatang mengikuti berbagai faktor alami yang telah ditentukannya. Mereka sama sekali tidak memiliki kehendak dalam memilih bentuk-bentuk kesempurnaan dan berproses menuju kesempurnaannya.

Namun tidak demikian dengan manusia, di samping mempunyai segala yang ada pada tumbuhan dan binatang, baik secara jasmani dan ruhani, ia dibekali secara khusus dengan akal dan pikiran. Fakultas akal ini memiliki kekuatan meraih pengetahuan yang luas dan tinggi yang akan berpengaruh dalam menggambarkan bentuk nyata kesempurnaan dan kebahagiaan yang dikehendakinya lalu diletakkannya sebagai tujuan hidupnya. Dari sini akan lahir kehendak kuat yang akan memunculkan aktivitas-aktivitas untuk menggapainya. Tercapainya tujuan berarti terwujudnya kebahagiaan dan kesempurnaannya.

Dalam upaya meraih kesempurnaan dan kebahagiaan sebagai tujuan hidup, manusia menggunakan fakultas akal untuk merancang suatu pandangan dunia yang universal secara teoritis dan rincian-rinciannya demi mengarahkan tindakan-tindakannya secara praktis.

Beragam pandangan dunia mencuat dan hadir di tengah-tengah umat manusia di sepanjang sejarah yang bersumber dari perbedaan pengetahuan mengenai alam semesta dan asal mula penciptaannya. Secara umum pandangan dunia itu terbagi dua, pandangan dunia Spiritualisme dan Materialisme. Perbedaan mendasar kedua pandangan dunia ini terletak pada eksistensi Tuhan sebagai Sang Pencipta alam semesta yang azali dan abadi, Spiritualisme menerima dan meyakininya, sementara Materialisme menolak dan mengingkarinya. Namun berdasarkan asas-asas epistemologis, pandangan dunia manusia terbagi empat:

1. Pandangan dunia empiris. Suatu pandangan yang sepenuhnya berpijak pada data-data inderawi dan fisikal. Materialisme dan pandangan dunia empiris adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan;

2. Pandangan dunia filsafat. Suatu pandangan yang bersandar pada analisis rasional dan penalaran akal. Tidak dapat disangkal bahwa sebagian pandangan dunia filsafat ikut andil dalam menegaskan Materialisme sebagai suatu paradigma holistik. Akal dan rasionalitas mereka terjebak dalam dunia materi;

3. Pandangan dunia agama dan Ilahi. Suatu pandangan yang diperoleh melalui keyakinan kepada kitab-kitab suci yang dibawa oleh para nabi dan rasul dan ungkapan-ungkapan suci mereka;

4. Pandangan dunia tasawuf dan irfan. Suatu pandangan yang digapai lewat proses pensucian diri, penyingkapan batin, dan penyaksian batin (intuisi, musyahadah dan mukasyafah).

Pandangan dunia empiris memiliki keterbatasan karena hanya berhubungan dengan fenomena-fenomena alam materi, karena itu mustahil menjangkau dan mengkonstruksi pengetahuan komprehensif mengenai penciptaan alam semesta dan menuntaskan berbagai problematika yang menyelimutinya. Ilmu-ilmu empiris tidak bisa menolak atau bahkan menegaskan persoalan-persoalan fundamental alam semesta yang bersifat nonmateri, karena memang berada di luar pengamatan dan subyeknya. Adalah mustahil membuktikan realitas nonmateri dan metafisik melalui observasi di laboratorium. Indra lahiriah tidak dapat menilai ada tiadanya realitas-realitas di luar alam materi.

Pada aspek yang lain, beragam perkarakenonmaterian dankeintuisian (aspek-aspek spiritual dan mistik) apabila hendak dijabarkan dan diuraikan dengan ungkapan-ungkapandan kalimat-kalimat hingga dapat dipahami oleh manusia berakal, mestilah memerlukan kemampuan yang hanya dapat dicapai melalui dasar-dasar dan metode-metode analisis rasional dan filosofis. Tak bisa disangkal sering terjadi kekeliruan dalam proses penyingkapan ataupenyaksian hakikat realitas. Karena itu diperlukan mizan akal dan tolok ukur rasional demi meluruskan gambaran-gambaran dan imajinasi-imajinasi keliru tentang realitas-realitas hakiki.

Menyingkap hakikat-hakikat batin dan eksistensi suci Ilahi secara benar melalui proses sair-sulukirfani dan penapakan jalan spiritual niscaya memerlukan waktu yang sangat lama. Sementara persoalan eksistensi Sang Pencipta dan fenomena alam semesta adalah hal yang sangat urgen untuk segera ditegaskan dan dijabarkan karena merupakan landasan awal dalam bangunan suatu pandangan dunia. Dalam aspek lain,sair-sulukirfani bersifat praktis. Untuk memulai sair-suluk, seseorang harus mengetahui secara teoritis tentang wujud suci Tuhan sebagai tujuan puncak sair-suluk. Dan penegasan eksistensi suci-Nya secara teoritis mesti melalui metodologi analisis rasional-filosofis dan proses observasi akal.

Hal yang sama juga berlaku bagi agama yang berpijak pada kitab suci dan ungkapan para nabi. Menyandarkan keyakinan kita terhadap eksistensi Tuhan melalui kitab suci adalah rapuh dan tidak kuat. Pertama kita harus menegaskan eksistensi-Nya secara rasional, sebelum meyakini apa yang diutarakan di dalam kitab suci-Nya yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Kitab suci atau kalamullah hanyalah akibat perbuatan-Nya yang bersumber dari sifat hikmah dan kebijaksanaan dalam mengarahkan segenap manusia kepada-Nya. Menegaskan sebab (wujud Tuhan) melalui akibatnya (kitab suci) tidaklah kuat. Dengan berpijak kepada akal, kita dapat mengetahui keberadaan Tuhan sebagai sebab pertama secara teoritis dan universal. Sang Pencipta sendiri yang memberikan kekuatan kepada akal untuk persoalan hal ini dengan menyeru manusia di dalam kitab suci-Nya untuk senantiasa berpikir, bertadabbur, dan bertafakkur tentang segala hal kecuali hakikat wujud-Nya. Akal adalah bagian substansial jiwa manusia yang tak dapat dipisahkan dan dipungkiri eksistensinya. Semua manusia menghormati dan memuliakan akal dan temuan-temuannya. Jika akal mampu menegaskan eksistensi Tuhan secara baik, maka akan menjadi dalil sangat kuat bagi semua manusia untuk menerima eksistensi-Nya sehingga tidak ada jalan lagi untuk menolak-Nya secara rasional. Di sisi lain, agama sejak awal mensyaratkan akal dalam menerima agama. Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal. Akal adalah pondasi bangunan agama. Kekuatan bangunannya terletak pada basis akal, semakin kuat akal maka semakin kuat agama.

Satu-satunya metode yang sangat kuat untuk membangun asas kokoh dan universal pandangan dunia dan paradigma holistik tentang eksistensi Sang Pencipta adalah logika, akal, rasional, dan filsafat. Pandangan dunia filsafat ini mampu melandasi secara kuat pandangan-pandangan dunia lainnya.

Jenis-jenis Pengetahuan

Pengetahuan manusia secara umum terbagi empat:

1. Pengetahuan indrawi. Pengetahuan ini diperoleh dengan perantara panca indra.

2. Pengetahuan rasional. Pengetahuan ini dihasilkan dari konsep-konsep abstrak yang universal dengan peran sentral fakultas akal.

3. Pengetahuan tekstual. Pengetahuan ini dicapai melalui sumber-sumber informasi yang tepercaya dan jujur dari teks-teks agama.

4. Pengetahuan hudhuri atau syuhudi (intuisi). Pengetahuan ini digapai melalui hubungan langsung dengan objek hakiki yang bersifat eksternal dan internal dengan tanpa perantara konsep-konsep universal di dalam pikiran. Karena itu, pengetahuan ini jauh dari kekeliruan.

Pengetahuan indrawi, rasional, dan tekstual dapat digolongkan ke dalam pengetahuan hushuli yang berlawanan dengan pengetahuan hudhuri. Pengetahuan hushuli dicapai melalui perantara panca indera atau konsep-konsep abstraksi universal, sementara dalam pengetahuan hudhuri tidaklah demikian.

Pengetahuan Hudhuri dan Pengetahuan Hushuli

Terdapat dua jenis pengetahuan untukmenegaskan dan mengenal eksistensi Tuhan, pengetahuan hudhuri dan pengetahuan hushuli. Manusia dapat mengetahui keberadaan dan sifat-sifat Tuhan melalui pengetahuan hudhuri dengan proses pensucian hati, pencerahan batin, dan pemurnian fitrah. Orang yang meraih pengetahuan hudhuri tentang eksistensi Tuhantidak perlu lagi dalil-dalil rasional dan proses-proses silogisme pengetahuan hushuli. Pengetahuan hudhuri yang dicapai ini telah menjadi hujjah dan dalil baginya. Namun demikian, jika seseorang ingin menegaskan dan memperkenalkan eksistensi Tuhan dan sifat-sifat sempurna-Nya kepada orang lain, maka diperlukan pengetahuan hushuli, karena itu penguasaan atas argumen-argumen rasional menjadi hal yang sangat penting dan urgen.

Sementara melalui pengetahuan hushuli, manusia dapat mengetahui wujud Tuhan dan sifat-sifat-Nya dengan perantara konsep-konsep universal yang diabstraksi dari akibat-akibat dan fenomena-fenomena alam semesta serta segenap makhluk hidup di alam materi ini. Dan dengan menggabungkan konsep-konsep universal lainnya, manusaia dapat memperoleh pandangan dunia yang utuh tentang Sang Pencipta dan sifat-sifat sempurna-Nya. Segala pengetahuan yang diperoleh manusia melalui kontemplasi rasional dan argumentasi filosofis, termasuk pengetahuan hushuli.

Merumuskan Argumen Rasional tentang Eksistensi Tuhan

Pandangan dunia Agama menekankan keimanan dan keyakinan kepada eksistensi Tuhan sebagai Sang Pencipta alam semesta. Inilah perbedaan prinsipil antara pandangan dunia agama (Ilahi) dan Materialisme. Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran harus memberikan jawaban tegas terhadap pertanyaan: apakah Tuhan itu ada atau tidak? Jawaban apa pun yang diperolehnya, akan menentukan tujuan tertinggi kehidupannya sebagai bentuk nyata dari kesempurnaan dan kebahagiaan yang dikehendakinya.

Untuk menemukan jawaban positif atau negatif dari pertanyaan ini, kita harus menggunakan akal supaya dapat merumuskannya secara meyakinkan dan memuaskan pada tingkatan tertentu yang bisa dijangkau oleh semua manusia yang berakal.

Para filosof dan teolog Ilahi telah merumuskan sejumlah argumentasi dalam pembuktian wujud Tuhan, misalnya argumen fitrah, gerak, akhlak, keteraturan, kausalitas, ontologi, mukjizat, shiddiqin, kemurnian wujud, ketunggalan wujud, dan lain sebagainya. Artikel ini akan memilih salah satu argumen rasional dari sekian banyak argumen tentang eksistensi suci-Nya dan memaparkannya. Argumentasi ini didasarkan pada premis-premis yang lebih sedikit sehingga lebih mudah dipahami. Di samping itu, argumentasi ini termasuk argumen kuat dan dapat diterima oleh semua manusia yang berakal.

Berpijak pada asumsi akal, realitas eksternal terbagi dua: wujud wajib (yang ada secara niscaya) dan wujud mungkin (yang ada secara mungkin). Secara nyata dan rasional, tidak ada satu realitas apapun yang keluar dari asumsi ini. Mustahil mengatakan, seluruh realitas adalah wujud mungkin. Karena setiap wujud mungkin niscaya memerlukan sebab. Wujud mungkin tidak dapat mengada dan berdiri sendiri secara esensial, karena wujud mungkin berada di antara dua kutub, ada dan tiada. Jika suatu realitas adalah wujud mungkin, secara rasional dapat disimpulkan, mesti terdapat suatu realitas yang merupakan wujud wajib sebagai sebab hakiki dalam perwujudannya. Jika tidak terdapat wujud wajib, wujud mungkin pun niscaya tiada. Keberadaan wujud mungkin seperti manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda lainnya tidak dapat dipungkiri dan semuanya pernah tiada kemudian menjadi ada, karena itu mesti terdapat wujud wajib sebagai sebab hakiki eksistensinya.

Jika sebab itu adalah wujud mungkin, ia pasti akibat dari sebab yang lain. Jika mata rantai sebab yang merupakan wujud mungkin tidak berakhir pada sebab yang itu adalah wujud wajib, niscaya tidak akan mengada satu pun wujud mungkin. Jika dicermati secara baik, mata rantai realitas sebab itu pada hakikatnya adalah mata rantai akibat yang merupakan wujud mungkin yang tidak niscaya adanya. Dengan demikian, mata rantai wujud mungkin akan menjadi ada ketika berujung kepada realitas yang bukan lagi akibat dari realitas apapun, yakni berakhir pada wujud wajib.

Para filosof membagi realitas eksternal ke dalam dua bagian, wujud wajib dan wujud mungkin.

Wujud wajib adalah realitas yang ada dengan dirinya sendirinya secara esensial, mandiri secara substansial, dan tidak bergantung sama sekali kepada realitas yang lain. Wujud wajib bersifat azali (tidak bermula) dan abadi (tidak berakhir). Karena, apabila sesuatu itu pernah tiada pada waktu tertentu, hal ini menunjukkan bahwa keberadaan sesuatu itu bukan dengan dirinya sendiri, melainkan wujudnya membutuhkan realitas selainnya sebagai sebab keberadaannya. Tentunya, jika sebabnya tiada, sesuatu itu tidak akan mengada.

Wujud mungkin adalah realitas yang keberadannya tidak dengan dirinya sendirinya, tetapi wujudnya diadakan dan bergantung mutlak kepada realitas selainnya. Dengan kata lain, wujud mungkin mustahil terwujud kecuali dengan perantara selainnya, yakni wujud wajib.

Penjelasan rasional ini menafikan adanya wujud lain yang disebut sebagai wujud mustahil, walaupun di alam pikiran, akal mampu mengasumsikan adanya wujud mustahil, misalnya manusia berkepala seribu dan yang sejenisnya. Dengan berpijak pada kenyataan di alam eksternal, realitas itu hanya ada dua, wujud wajib dan wujud mungkin. Dengan kata lain, kita dapat menggambarkan tiga asumsi berikut ini:

1. Setiap realitas eksternal adalah wujud wajib;

2. Setiap realitas eksternal adalah wujud mungkin;

3. Sebagian realitas eksternal adalah wujud wajib, dan sebagian lainnya adalah wujud mungkin.

Jika asumsi pertama dan ketiga diterima, keberadaan wujud wajib menjadi tertetapkan. Yang perlu dikaji lebih lanjut adalah asumsi kedua, apakah logis setiap realitas eksternal adalah wujud mungkin?

Untuk menggugurkan asumsi kedua, perlu ditambahkan premis lain ke dalam argumentasi terdahulu itu, yaitu seluruh realitas eksternal adalah mustahil sebagai wujud mungkin. Namun, premis ini tidak tergolong badihi dan gamblang. Oleh karena itu, para filosof menguraikannya sebagai berikut:

1. Setiap wujud mungkin butuh kepada sebab;

2. Mata rantai sebab yang tak berujung adalah mustahil. Karena itu, mata rantai sebab harus berakhir kepada realitas yang bukan lagi wujud mungkin yang tidak membutuhkan sebab. Realitas itu adalah wujud wajib.

Di bawah ini akan dijelaskan beberapa istilah filsafat yang berpengaruh di dalam argumentasi tersebut.

Sebab dan Akibat

Realitas yang bergantung kepada realitas lain disebut akibat, dan realitas yang digantunginya disebut sebab. Bisa saja suatu sebab masih bergantung kepada sebab yang lain. Jika sebab itu bukan lagi akibat dan tidak bergantung kepada realitas yang lain, maka disebut sebab mutlak yang tidak butuh kepada selainnya sama sekali.

Setiap wujud mungkin pasti membutuhkan sebab. Mengingat wujud mungkin itu keberadannnya tidak dengan sendirinya, maka wujud mungkin harus bergantung kepada realitas yang lain. Perlu diperhatikan, bukan setiap realitas memerlukan sebab, jika demikian, wujud wajib pun membutuhkan sebab. Dengan ungkapan lain, setiap realitas yang tidak berdiri sendiri nicaya membutuhkan sebab.

Kemustahilan Tasalsul

Premis lain yang digunakan dalam argumentasi ini, mata rantai sebab harus berakhir pada realitas yang dirinya secara esensial bukan lagi akibat. Tasalsul (mata rantai sebab-akibat yang tak berhingga) adalah mustahil. Atas dasar ini, dibuktikan bahwa sebab awal itu adalah wujud wajib (wujud Tuhan). Wujud wajib merupakan sebab pertama yang ada dengan sendirinya dan tidak perlu kepada wujud yang lain.

Para filosof telah menyusun argumen untuk menegaskan kemustahilan tasalsul, walaupun perkara ini pada hakikatnya bersifat badihi dan dengan sedikit merenungkannya akan dapat dipastikan kemustahilannya, karena setiap wujud akibat itu mesti membutuhkan sebab. Keberadaannya itu sepenuhnya bergantung kepada wujud sebab.

Apabila diasumsikan, jika segala sesuatu adalah akibat, yang membutuhkan sebab, tentu tidak akan hadir realitas apa pun. Tidak logis mengasumsikan adanya mata rantai akibat yang saling bergantungan tanpa berawal atau berakhir kepada suatu wujud yang merupakan tempat bergantungnya mata rantai tersebut.

Jika dicermati dengan baik, keberadaan realitas-realitas eksternal ini merupakan bukti atas keberadaan realitas yang mandiri dan tidak lagi membutuhkan kepada yang lain atau wujudnya tidak lagi disyarati oleh wujud selainnya.

Kesimpulan Argumen Eksistensi Tuhan

Kesimpulan argumen di atas dengan berpijak pada premis-premis sebelumnya. Bahwa keberadaan segala realitas eksternal tidak lepas dari dua kondisi: keberadaan realitas yang bersifat niscaya, mandiri mutlak, dan ada dengan dirinya sendirinya yang disebut dengan wujud wajib, atau keberadaan realitas yang tidak niscaya, ada tapi tidak dengan dirinya sendiri, dan bergantung mutlak kepada wujud yang lain diistilahkan dengan wujud mungkin.

Sesuatu yang ada tanpa dengan dirinya sendirinya dan keberadaannya membutuhkan kepada perantara yang lainnya, maka wujudnya menjadi niscaya melalui perantara lainnya. Seperti setiap sifat yang tidak bisa ditetapkan dengan sendirinya, dan mesti ditetapkan dengan perantara.

Hukum kausalitas menegaskan, setiap sesuatu yang wujudnya lemah, bergantung, atau bersifat mungkin, selalu membutuhkan sebab. Hukum ini tidak menetapkan, setiap sesuatu membutuhkan sebab atau setiap sesuatu adalah wujud mungkin yang memerlukan sebab, karena hal ini akan menyebabkan tidak ada sesuatu pun di alam eksternal.

Kesimpulannya, setiap wujud mungkin membutuhkan sebab. Dan setiap sebab adalah wujud wajib atau yang berakhir kepada wujud wajib. Jika tidak demikian, maka akan terjadi mata rantai wujud mungkin yang tak berhingga. Konklusinya, setiap wujud mungkin membutuhkan wujud wajib. Dengan demikian wujud wajib (Tuhan) menjadi tertetapkan. Pada hakikatnya, realitas-realitas eksternal itu, langsung atau tidak, merupakan dalil atas keberadaan wujud wajib.

Argumen di atas berangkat dari ‘akibat’ (wujud mungkin) ke ‘sebab’ (wujud wajib) yang dalam istilah filsafat dinamakan burhan inni (posterior demonstration), karena itu bukan dalil yang sempurna. Argumen ini mencoba ingin membuktikan bahwa ada orang yang pernah melewati suatu jalan dengan melihat bekas tapak kaki yang ditinggalkannya. Meskipun demikian, pada tingkat tertentu, argumen ini bermanfaat bagi kehidupan keberagamaan manusia dan mampu menjawab berbagai keraguan-keraguan filosofis tentang eksistensi Tuhan yang diajukan oleh kaum Ateis. Argumen ini hanya mampu menegaskan eksistensi Tuhan secara umum, tetapi tidak dapat membuktikan ketunggalan eksistensi-Nya kecuali dengan bantuan argumen yang lain.

Argumen yang paling kuat dan sempurna adalah yang berangkat dari ‘sebab’ ke ‘akibat’ dan kalimat penghubung kedua premis minor dan mayor mestilah merupakan sebab hakiki bagi premis mayor, sebagai contoh, darah seseorang terinfeksi virus, dan setiap orang yang memiliki darah terinfeksi virus niscaya memiliki suhu badan yang tinggi, jadi seseorang yang darahnya terinfeksi virus memiliki suhu badan yang tinggi. Kalimat penghubungnya adalah ‘darah terinfeksi’ yang merupakan sebab hakiki premis mayor yang ‘memiliki suhu badan tinggi’. Argumen jenis ini dinamakanburhan limmi (a priori demonstration) yang mampu menetapkan eksistensi dan ketunggalan Sang Pencipta sekaligus.

Tentunyaposterior demonstrationini memiliki bagian lain yang dekat dengana priori demonstration, yaitu berangkat dari satu keniscayaan kepada keniscayaan yang lain, seperti ketika dikatakan, realitas alam materi mengalami perubahan (dari potensi ke aktual), dan setiap realitas yang berubah adalah tercipta. Jadi, alam adalah tercipta. Dalam argumen ini, perubahan dan keterciptaan sejatinya merupakan dua perkara yang saling meniscayakan, yakni perubahan meniscayakan suatu keterciptaan. Argumen ini, meskipun tidak sekuata priori demonstration, namun dalam filsafat, logika, fisika, kimia, dan matematika sangat penting dan berguna.

Sebagian argumen yang dipaparkan demi membuktikan eksistensi Tuhan adalah argumen yang dekat dengana priori demonstration, seperti dalam argumen Ontologi dan argumen Shiddiqinyang berangkat dari suatu ‘keberadaan’ kepada ‘keberadaan murni’. Dalam argumentasi ini, yang ada hanyalah kemutlakan wujud, seperti yang dijabarkan oleh Allamah Thabathabai mirip dengan syair yang berbunyi, matahari adalah dalil bagi wujud matahari itu sendiri.

Suatu realitas yang layak disebut sebagai Tuhan Sang Maha Pengada harus memiliki dua sifat utama:

1. Kesempurnaan mutlak. Segala kesempurnaan yang layak bagi Tuhan akan dimiliki secara aktual dan terwujud dengan dirinya sendiri. Kesempurnaan itu identik dengan wujud itu sendiri, karena wujud Tuhan adalah mutlak, maka kesempurnaan-Nya pun menjadi mutlak.

2. Kemandirian mutlak. Segala bentuk kebutuhan dan kebergantungan ternafikan dari Tuhan. Dia sama sekali tidak bersandar dan berpijak kepada realitas yang lain. Tuhan itu azali, karena itu tidak pernah diawali dengan ketiadaan sehingga bergantung kepada realitas lain yang menghadirkan-Nya. Dia adalah keberadaan itu sendiri yang tidak diawali oleh ketiadaan. Begitu pula, wujud Tuhan itu abadi, yakni wujud-Nya tidak pernah diakhiri oleh ketiadaan seperti kematian. Dia adalah kehidupan itu sendiri yang tidak pernah diakhiri dengan kematian. []

Daftar Pustaka

· Haji Mulla Hadi Sabzewari, Syarh Al-Manzumah, Qum, Nasyr-e Nab, cetakan pertama tahun 1416 H.

· Abu Ali Husain bin Abdullah Sina, Al-Isyarat Wa Al-Tanbihat, Qum, Nasyr-e Balaghat, cetakan pertama tahun 1373 S (Iran).

· Abu Ali Husain bin Abdullah Sina, Ilahiyat Nejat, Qum, Intisyarat Fikr-e Ruz, cetakan pertama tahun 1377 S (Iran).

· Sayyid Muhammad Husain Thabathabai, Bidayah Al-Hikmah dan Nihayah Al-Hikmah, Qum, Markaz Intisyarat Daftar-e Tablighat Islami hauzah ‘Ilmiyah, tahun 1364 S (Iran).

· Muhammad Taqi Mishbah, Omusyesy-e Aqaid dan Omusyesy-e Falsafeh, Qum, Muassasah Roh-e Haq, tahun 1405 H.

· Murtadha Muthahhari, Ushul-e Falsafe Wa Rawasy-e Realism, Majmueye Ozor, jilid 6, Tehran, Intisyarat-e Sadra, cetakan kelima tahun 1376 S (Iran).

· Murtadha Muthahhari, Tauhid, Tehran, Intisyarat-e Sadra, cetakan pertama tahun 1373 S (Iran).