Kesetiaan Fatimah sa pada Kebenaran


Di sepanjang sejarah kehidupan manusia, kebenaran dan kebatilan akan selalu ada. Dan mau disadari atau tidak, manusia harus memilih salah satu dari kedunya. Karena dalam kehidupan ini hanya ada dua jalan; jalan kebenaran yang berujung pada keselamatan dan kebahagiaan dan jalan kebatilan yang berujung pada kebinasaan dan kesengsaraan. Pada fitrahnya setiap manusia mencintai kebenaran dan membenci kebatilan. Akan tetapi karena beberapa faktor manusia bisa salah dalam memilih jalan. Ada dua faktor utama yang bisa membawa manusia pada jalan kebatilan. Faktor pertama berasal dari diri manusia itu sendiri, yaitu hawa nafsu yang cendrung mendorong manusia untuk berbuat keburukan. Sebagaimana Nabi Yusuf as menjelaskan keadaan nafs (hawa nafsu) yang tertulis dalam Alquran :

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ ما رَحِمَ رَبِّي‏[i]

"Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhan-ku”.

Dan faktor kedua adalah musuh dari luar diri manusia yang selalu mengintai dan mencari kesempatan untuk menipu dan menyesatkan manusia. Mereka adalah setan yang merupakan musuh nyata bagi Bani Adam as. Setan begitu pandai mengelabuhi manusia sehingga ia bisa menyulap pandangan manusia menjadi terbalik, yang batil nampak benar dan yang benar nampak batil, kebaikan terlihat buruk dan keburukan nampak indah dalam pandangan manusia. Karena itu Allah swt memerintahkan kita untuk tidak mengikuti bisikan dan langkah-langkah setan.

وَ لا تَتَّبِعُوا خُطُواتِ الشَّيْطانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبين‏[ii]

"Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

Karena jika kita mengikuti langkah-langkah setan maka kita akan tertipu dan menganggap kesalahan, kebatilan dan keburukan adalah sebuah kebenaran dan kebaikan. Jika keyakinan kita sudah terbalik seperti ini, maka akan sulit sekali untuk menyelamatkan diri kita dari belenggu setan. Sebagaimana kaum kafir Quraisy yang merasa benar dalam memusuhi dan memerangi Nabi saw.

Allah swt berfirman:

وَ إِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطانُ أَعْمالَهُم‏ وَ قالَ لا غالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَ إِنِّي جارٌ لَكُمْ فَلَمَّا تَراءَتِ الْفِئَتانِ نَكَصَ عَلى‏ عَقِبَيْهِ وَ قالَ إِنِّي بَري‏ءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرى‏ ما لا تَرَوْنَ إِنِّي أَخافُ اللَّهَ وَ اللَّهُ شَديدُ الْعِقاب‏.[iii]

"Dan (ingatlah) ketika setan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (dosa) mereka dan mengatakan, "Tidak ada yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sungguh aku (setan) adalah penolongmu”. Maka ketika kedua pasukan itu telah saling melihat (berhadapan), setan berbalik ke belakang seraya berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, aku dapat melihat apa yang kamu tidak dapat melihat, senungguhnya aku takut kepada Allah swt, sesungguhnya Allah swt sangat keras siksa-Nya.”

Ayat di atas menjelaskan tentang kaum musyrikin yang memerangi Nabi pada perang Badar. Setan menjadikan perbuatan mereka nampak indah dan menjanjikan kemenangan atas mereka, akan tetapi setelah kedua pasukan berhadap-hadapan, setan lari dan berlepas diri dari mereka karena setan mengetahui bahwa memerangi dan membunuh Nabi adalah sebuah kesalahan dan dosa yang besar.[iv] Pada zaman sekarang pun demikian, setan begitu pandai menghiasi kebatilan hingga nampak menjadi kebenaran. Karena itu di zaman ini begitu sulit membedakan antara yang benar dan yang batil.

Akan tetapi bukanlah hal yang mustahil untuk mendapatkan kebenaran. Karena Allah swt yang maha penyayang telah menanamkan api cinta pada kebenaran dalam diri manusia, inilah yang disebut dengan fitrah. Dan Dia juga memberikan pedoman berupa akal agar berfikir dan mencari kebenaran dan tidak tersesat ke jalan kebatilan. Selain itu Allah swt juga mengutus Nabi dan Rasul-Nya untuk selalu menyalakan api fitrah dan membimbing akal manusia kepada jalan yang benar. Setelah Nabi wafat Allah swt pun menetapkan seorang imam atau ulil amri sebagai khalifah-Nya untuk membimbing manusia meniti jalan kebenaran. Dengan semua nikmat ini, manusia dengan ikhtiar dan pilihannya bisa mengetahui kebenaran dan mengikuti jalannya hingga sampai pada keselamatan. Karena itu adalah kewajiban bagi kita untuk berfikir, mencari dan menaati Allah swt, Rasul dan juga ulil amri-Nya supaya kita sampai pada jalan yang lurus.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا أَطيعُوا اللَّهَ وَ أَطيعُوا الرَّسُولَ وَ أُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ[v]

"Wahai orang-orang beriman! Taatilah Allah swt dan taatilah rasul (Muhammad saw), dan ulil amri (imam) diantara kamu”.

Karena itu ketaatan kepada Allah swt, Rasul dan ulil amri tidak bisa dipisahkan dan ketaatan inilah yang akan membawa manusia pada jalan yang lurus dan keselamatan dunia akhirat.

Allah swt berfirman:

وَ أَنَّ هذا صِراطي‏ مُسْتَقيماً فَاتَّبِعُوهُ وَ لا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبيلِهِ ذلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون‏

"Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah dan jangan ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa”.

Allah swt adalah hakikat dan jalan menuju-Nya adalah jalan yang lurus (shiratal mustaqim) yaitu jalan kebenaran yang akan menyampaikan manusia kepada keselamatan dan kebahagiaan hakiki. Rasulallah saw dalam menjelaskan ayat ini, beliau mengambar sebuah garis lurus dan garis-garis yang banyak di kanan-kirinya. Garis yang lurus adalah shiratal mustaqim dan berbagai garis yang ada di kanan dan kirinya adalah jalan kebatilan yang mana pada setiap garis itu ada setan yang mengajak manusia kepada kebatilan.[vi]

Tafsir Qumi menjelaskan bahwa shiratal mustaqim dalam ayat tersebut adalah wilayah atau kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait as. Allah swt memerintahkan umat Islam untuk mengikuti Ali bin Abi Thalib sebagai washi atau pengganti Nabi saw dan tidak berdebat dalam masalah ini. Barang siapa yang mengikuti Imam Ali as sama dengan mengikuti Allah dan Rasul-Nya dan barang siapa yang menolak dan berselisih tentangnya maka ia akan keluar dari shirathal mustaqim.[vii]

Karena itu, meyakini dan mengikuti Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan juga para imam Ahlulbait sangat penting untuk menentukan keselamatan kita di dunia dan akhirat. Karena shirathal mustaqim adalah jalan Allah swt dan jalan Allah swt adalah jalan Rasulallah dan ulil amri-Nya. Dan ulil amri-Nya adalah Ali bin Abi Thalib dan para imam Ahlulbait as. Hanya dengan mengikuti shirathal mustaqim kita bisa selamat dari tipu daya hawa nafsu dan juga tipu daya setan yang menggiring kita pada jalan yang sesat.

Akan tetapi memilih jalan kebenaran dan istikomah di jalan ini tidaklah mudah. Banyak tantangan dan cobaan, mulai dari fitnah dan tuduhan sesat terhadap pengikut Ali as sampai pada penyiksaan dan pembunuhan. Banyak contoh dalam sejarah baik di zaman sahabat, tabi’in, dinasti Umayah dan Abasyiah hingga sekarang, umat Islam pengikut Ali as yang sering disebut dengan Syiah mengalami berbagai tekanan dan penindasan. Kita lihat saja apa yang terjadi di Suria dahn Yaman sekarang ini, bahkan di negara kita sendiri, kita menyaksikan kriminalisasi terhadap muslim Syiah di Sampang dan juga tekanan di daerah lainnya. Dengan fitnah Syiah sekelompok orang yang mengklaim dirinya sebagai Islam (ISIS) sangat mudah menyesatkan, mengkafirkan, membunuh dan membantai sesama manusia. Dan begitu banyak orang yang tertipu ikut mengkafirkan dan menghalalkan darah Syiah karena hiasan setan yang menjadikan yang batil nampak hak dan yang hak nampak batil.

Namun pemengang panji kebenaran tidak akan lelah dan menyerah dengan semua ujian ini, karena pendahulu-pendahulu mereka telah mencontohkan kegigihan dan kesabaran dalam memegang wilayah Ali as. Fatimah az Zahra sa adalah salah satu figur wanita terbaik dalam mencontohkan ketegaran ini. Walaupun hampir semua masyarakat Madinah bertolak belakang dengannya, ia tetap tegar dengan keimanannya. Walaupun pihak yang kuat memaksa dan bahkan mengancamnya, beliau tetap sabar. Sehingga ajal menjemputnya ia tetap setia memegang wilayah dan tidak pernah melepaskannya. Dalam sejarah, Fatimah sa putri Nabi saw, penghulu wanita surga, tidak pernah berbaiat kepada siapa pun kecuali Ali as.[viii]

Kesedihan dan tangisan Fatimah terhadap apa yang berlaku terhadapnya selepas kepergian ayahanda tercinta hingga kesyahidannya merupakan tarbiyah dan didikan bagi umat Islam. Beliau menangis bukan karena dirinya dikucilkan dan ditinggalkan oleh penduduk Madinah, bukan pula karena beliau haus kekuasaan, dan bersedih karena kekhalifahan jatuh ke tangan Abu Bakar, bukan juga karena fanatik golongan atau karena tali kekeluargaan, beliau mempertahankan hak suaminya Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dan imam umat, bukan karena itu semua. Melainkan beliau menangis karena umat sedang berjalan meninggalkan shirathal mustaqim dan memilih jalan kebatilan. Kemarahan Fatimah sa bukan karena kezaliman yang menimpa dirinya, akan tetapi karena penyimpangan yang dilakukan sebagian sahabat merupakan kezaliman terhadap umat Islam. Kesedihan dan kemarahan Fatimah sa adalah hujjah agar generasi selanjutnya tidak mencontoh dan mengikuti jejak pendahulu mereka yang salah. Sikap keras Fatimah sa terhadap sahabat adalah bentuk kepedulian dan kasih sayang beliau kepada umat Islam. Hanya saja umat Islam tidak mengetahui perjuangan Fatimah sa dalam membela hak umat Islam. Yaitu hak untuk mengetahui shirathal mustaqim, hak untuk mengetahui kebenaran, hak untuk mengetahui jalan keselamatan. Kita saksikan pada zaman ini, begitu sedikit orang yang mengetahui tentang keimamahan Ali as, tentang wilayah Ahlulbait, tentang shiratal mustaqim. Hal itu karena kesalahan pendahulu yang masih dipelihara hingga sekarang. Mengkritisi prilaku sahabat disebut mencela dan berbicara tentang kesalahan mereka dianggap menghina, melaknat dan bahkan pelakunya dianggap sesat dan keluar dari Islam. Inilah ralita dunia Islam masa kini.

Karena itu, walaupun masyarakat Madinah telah menolak kebenaran, namun Fatimah sa sampai akhir hayatnya dengan penderitaan sakit yang menimpa, tidak tinggal diam. Demi keselamatan umat yang akan datang, yaitu kita. Beliau berwasiat kepada Ali as agar jasadnya dikuburkan secara tersembunyi supaya orang-orang yang telah berbuat zalim kepada umat Islam tidak bisa menyalatkannya.[ix] Sikap ini menunjukkan keberanian dan kecintaan Fatimah sa terhadap Islam dan umat yang sangat besar. Dengan tersembunyinya kuburan Fatimah sa, putri kesayangan Rasulallah, wanita penghulu surga, maka akan timbul pertanyaan besar pada generasi Islam selanjutnya; "Mengapa kuburan putri Rasulallah saw tidak diketahui hingga sekarang? Apa yang terjadi padanya?” dan seterusnya. Pertanyaan ini akan menguak kebenaran yang tersembunyi dan menjadi sumber cahaya bagi para pencari kebenaran.

Semoga pada minggu duka ini, yaitu detik-detik wafatnya putri Nabi saw, dengan tulisan ringan ini bisa memberikan pencerahan dan mendorong rasa ingin tahu kepada umat Islam untuk mencari shiratal mustaqim yang akan membawa kita pada kebahagiaan dunia akhirat. Amin.



[i] Q.S. Yusuf:53

[ii] Q.S. al-Baqarah: 169.

[iii] Q.S. al-Anfal: 48.

[iv] Hashimi Khu’i, Hasan Zadeh Amuli dan lainnya, Manhajul Bara’ah fi syarh nahjul balaghah, jild 6, hal 12.

[v] Q.S. al-Nisa: 59

[vi] Ali bin Husain as, Shahifah Sajadiyah (terjemahan dan sharah Faidh Islam), hal 38.

[vii] Ali bin Ibrahim Qomi, Tafsir Qumi, jild 1, hal 221.

[viii] Untuk mengetahui ketidakridhaan Fathimah kepada Abu Bakar dan Umar bisa merujuk ke: Ibnu Qutaibah Dainuri, Al Amanatu wal Siyasiyah, jild 1, Hal 24.

[ix] Muhammad ibn Muhammad Mufid, Al Amali Lil Mufid (terjemahan Ust Wali), hal 421.