Hamid Algar
Peran Ali Syariati dalam Revolusi Islam

Oleh: Hamid Algar[1]

Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini adalah usaha kaum elite dan cendikiawan masyarakat, baik dari lapisan ulama atau non ulama, hasil perjuangan rakyat di bawah naungan anugerah dan inayat Ilahi yang tiada henti. Dengan demikian, kadar pengaruh kepemimpinan Imam Khomeini tidak dapat dikurangi, begitu pula dengan peran rakyat dan usaha-usaha mereka, juga usaha kaum cendikiawan dan pemikir di tengah-tengah masyarakat mulai dari Syahid Muthahhari hingga Ali Syariati.

Namun posisi mereka masing-masing harus diketahui sehingga tidak menimbulkan konflik dan kontradiksi dengan sikap ekstrim kanan dan kiri di antara elemen-elemen tersebut. Demikian juga esensi utama revolusi dan kaum revolusioner, argumen-argumen kemenangan revolusi dalam sulitnya persaingan partai dan kelompok serta politik supaya tidak ternodai.

Selanjutnya, terdapat nukilan dari beberapa bagian buku "Iran va Enghelab-e Eslami” karya Hamed Algar yang merupakan kumpulan dari ceramah-ceramahnya tentang Ali Syariati. Meskipun ada kemungkinan pandangannya tidak sempurna atau benar, namun dapat menunjukkan revolusi Islam dari kacamata seorang orientalis[2] muslim. Tentu saja beberapa bagian yang dipilih tentang Ali Syariati dan perannya dalam revolusi dipaparkan dengan singkat.

Bila revolusi ini secara keseluruhan dipimpin oleh ulama Syiah yang diujungtombaki Ayatullah Khomeini, lapisan masyarakat ini masih tetap menjaga tradisi yang ada sejak dahulu dalam teks masyarakat. Meski demikian, kenyataan bahwa pengaruh luas buku-buku dan ceramah-ceramah Dr. Ali Syariati membuat mayoritas pemuda terpelajar Iran berani mengikuti Ayatullah Khomeini, masih tetap kokoh pada tempatnya.

Walaupun Dr. Ali Syariati dalam berbagai karyanya jarang menyinggung pembahasan politik, ekonomi dan sosial Iran dan meskipun wafatnya pada Juni 1977 di Inggris terjadi sebelum revolusi, namun beliau layak diletakkan sebagai salah satu sayap revolusi dan bahkan dari sisi peran berada pada barisan kedua setelah Ayatullah Khomeini.

Latar belakang sejarah baru pemikiran Islam di Iran relatif masih muda dan tidak dapat dibandingkan dengan tradisi ulama Syiah yang telah mengakar sebagai sebuah lembaga dan sebuah tradisi dalam kepemimpinan politik Iran. Dapat dikatakan bahwa salah satu alasan besar mengapa para pemikir baru Islam di Iran relatif terbatas dan sedikit, dikarenakan hasil suatu tradisi yang mengharuskan kendali kepemimpinan dipegang oleh ulama. Sementara di negara-negara Islam lainnya, lapisan ulama sedikit demi sedikit kehilangan posisi dan basis sosial – intelektual mereka dan muncul sosok-sosok lain dari luar yang mengemban tugas untuk memperbaharui bangunan Islam yang dianggap harmonis dengan dunia kekinian, namun di Iran kondisi seperti itu tidak terjadi.

Dr. Ali Syariati lahir pada tahun 1933 di satu perkampungan bernama Mazinan wilayah timur Iran. Beliau hidup dalam satu keluarga yang selalu memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan penyebaran ilmu-ilmu agama. Beliau dalam salah satu bukunya yang ditulis dengan prosa yang fasih dan bermuatan sastra menyebutkan kenangan tahun-tahun pertama kehidupannya di desa, khususnya pengaruh pemikiran yang terbentuk dari ayah beliau, Muhammad Taqi Syariati yang saat tulisan ini ditulis masih hidup.

Saat masih berusia sangat belia, Ali Syariati bersama sang ayah meninggalkan Mazinan menuju Masyhad. Di sanalah sang ayah menunaikan tugas mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada sang anak. Selain menuntut ilmu-ilmu agama di sisi sang ayah, Ali Syariati juga mempelajari ilmu-ilmu kekinian. Mula-mula beliau menuntut ilmu dari sang ayah, kemudian berguru kepada ulama lain di Masyhad dan di Qom sebagai kota agama kedua terbesar di Iran untuk beberapa lama.

Semenjak tahun-tahun pertama, beliau telah menunjukkan usahanya hingga melampaui batasan tradisi-tradisi yang ada. Beliau memiliki pondasi kokoh ajaran-ajaran dari sang ayah dan ulama lain. Lalu beliau mencari sisi-sisi lain pemikiran untuk mengenal berbagai pengetahuan dan penemuan baru. Buah pertama dari ketertarikan dan atensi beliau adalah penerjemahan teks-teks Arab ke dalam bahasa Persia. Saat melalui usia muda, beliau telah menerjemahkan buku berjudul "Abu Dzar Al-Ghiffari” yang ditulis oleh penulis Arab bernama ‘Abarut As-Sihar’ ke dalam bahasa Persia. Dalam buku tersebut, Abu Dzar digambarkan sebagai sosok pejuang gigih yang berjuang melawan penyelewengan akidah Islam yang diciptakan oleh Bani Umayah. Dalam budaya Syiah, perjuangan ini dipandang sebagai perlawanan kontinu dan konfrontasi permanen keadilan terhadap ketidakadilan.

Daya tarik Abu Dzar Al-Ghiffari menetap dalam kehidupan Dr. Syariati untuk selamanya dan Abu Dzar menjelma menjadi sosok teladan manusia muslim yang telah menapaki kesempurnaan. Oleh karena itu, pemikiran-pemikiran Abu Dzar senantiasa terpancar dalam ucapan, ceramah-ceramah dan karya-karya Dr. Syariati.

Bila saya dapat ringkas pemikiran-pemikiran Dr. Syariati dalam sebuah jumlah, saya akan katakan bahwa beliau memperkenalkan Islam bukan sebagai sebuah agama yang disimpulkan oleh orang-orang Barat, namun sebagai sebuah ideologi. Ketika kita berusaha mendefinisikan Islam dalam koridor klasifikasi pemikiran dan bahasa Barat, hasilnya pasti tidak akan lengkap atau penuh dengan kekurangan. Oleh karena itu, kata ‘agama’ tidak akan mampu menggambarkan konsepsi Islam yang sesungguhnya. Demikian pula kata ideologi dan ide akan kehilangan muatan konsepsi yang dapat mendefinisikan Islam secara komprehensif. Masing-masing dari kata tersebut mungkin saja benar penggunaannya untuk Islam, namun tidak cukup, tidak komprehensif, dan tidak protektif (tidak jami’ dan mani’).

Islam minimal buat kita kaum muslimin adalah sebuah fenomena yang kebenarannya tidak memiliki keraguan sedikit pun. Oleh karena itu, ucapan Dr. Syariati yang menyebut Islam sebagai sebuah ideologi, tidak menjelaskan konsepsi bahwa makna ideologi telah meresap dalam opini publik. Yang dimaksudkan dari kata ini, bahwa Islam adalah komprehensifitas dan universalitas yang tidak membatasi dirinya hanya dengan penyucian dan tazkiah akhlak, jalinan relasi spiritual antara individu dengan Tuhannya.

Saya kira yang dimaksud dari kata ideologi dalam ucapan Ali Syariati adalah komprehensifitas sudut pandang Islam dalam sisi-sisi dan dimensi-dimensi kehidupan.

Tidak diragukan bahwa usaha-usaha yang memecah belah di Iran menerima kekalahan, karena mayoritas besar pemuda Iran, terutama mereka yang mendukung revolusi Islam di Iran, mengikuti dan mendukung Ayatullah Khomeini, sekaligus Dr. Syariati. Tidak pernah ada pembahasan untuk memilih salah satu dari keduanya (dan meninggalkan yang lainnya) atau pertentangan di antara keduanya. Dapat dikatakan bahwa bila Ayatullah Khomeini mengambil kendali kepemimpinan militer, politik, dan spiritual revolusi dengan cara yang sangat berani dan belum ada yang menandinginya, Dr. Syariati telah mempersiapkan kandungan pemikiran dan intelektualitas yang dibutuhkan untuk loyalitas dan kesetiaan terhadap revolusi.

Kritik Syahid Muthahhari terhadap Dr. Syariati karena mengecam Mulla Muhammad Baqir Majlisi bahkan telah melewati perbatasan Iran. Ketika Ayatullah Khomeini berada di Najaf, beliau juga mengetahui perselisihan pendapat yang terjadi di antara keduanya. Salah seorang sahabat saya, setelah kemenangan revolusi Islam bertanya kepada beliau tentang peran Dr. Syariati dalam revolusi. Dengan sikap bijak sebagaimana biasanya, Imam Khomeini menyatakan bahwa faktor terbesar kemenangan revolusi adalah iradah dan masyiyyah Ilahi. Sahabat saya tersebut kembali bertanya bahwa apakah Anda tidak berfikir Dr. Syariati memiliki kontribusi yang besar dalam revolusi ini?

Ayatullah Khomeini dengan tegas dan simpel menjawab bahwa karya-karya dan ajaran-ajaran Dr. Syariati telah menimbulkan perdebatan yang luas di kalangan ulama dan pada saat yang sama meninggalkan pengaruh yang besar terhadap pemuda-pemuda terpelajar Iran dan menarik mereka ke arah Islam. Beliau menambahkan bahwa para pengikut Dr. Syariati harus mengembangkan kajian-kajian mereka melebihi apa yang ditunjukkan Dr. Syariati dan melakukan kajian yang lebih banyak dalam tradisi Syiah.

Topik penting terkait peran dan pengaruh Dr. Syariati dan harus diberikan perhatian dan dihargai adalah pengaruh besar yang ditinggalkan oleh Dr. Syariati terutama di hati ulama. Ketika kita mendengarkan beberapa kaset rekaman ceramah-ceramah ulama pada masa revolusi, selalu akan kita dapatkan refleksi dan gema dari keyakinan-keyakinan bahkan istilah yang pernah digunakan oleh Dr. Syariati. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pemikiran-pemikiran Dr. Syariati memiliki pengaruh yang besar terhadap santri-santri muda.

Menurut saya, sangat tidak adil dan mengabaikan realita bila kita memperkenalkan almarhum Syariati anti ulama atau anti lapisan keulamaan. Beliau sering mengkritisi sisi-sisi mazhab yang dominan dan tradisi yang mapan. Menurut keyakinan saya, dalam banyak kasus yang beliau soroti dan vonis, kebenaran berpihak kepada beliau (beliau ada benarnya juga). Adapun jika kita mengatakan bahwa beliau menentang lembaga ulama, hal itu tidak benar, karena menentang sebagian pembahasan dalam tradisi agama berbeda dengan menentang lapisan ulama. Saya kira dalam karya-karya Dr. Syariati tidak akan dapat ditemukan bukti-bukti yang mengindikasikan beliau menentang keulamaan. Pada hakikatnya, beliau membedakan antara ulama yang sesungguhnya dengan yang hanya memakai baju dan atribut ulama, namun tidak memiliki pengetahuan yang memadai dan komitmen yang benar-benar terhadap Islam. Bahkan dari karya-karya beliau dapat ditemukan bahwa beliau sangat hormat dan merendah di hadapan ulama yang sesungguhnya.

Dalam perselisihan dan pertentangan pendapat antara Dr. Muthahhari dengan almarhum Syariati harus dilihat jenis relasinya. Antara keduanya terlihat tidak ada kesamaan, antara ulama dan pengaruh Dr. Syariati tampaknya tidak ada kesinkronan, namun pada hakikatnya masing-masing saling menyempurnakan pengaruh yang lainnya.

Adapun musuh-musuh luar berusaha membesar-besarkan perselisihan ini dan menunjukkannya sebagai sebuah problem penting dan nyata. Melalui cara itu mereka menciptakan kamp dengan nama kamp Syariati, supaya para pendukung Syariti mengambil posisi di satu sisi dan para pendukung Khomeini di sisi lain dan saling berhadapan satu dengan yang lainnya. Tidak ada konflik dan kontradiksi sehingga dengan mudah seseorang selain mengikuti Imam Khomaini juga mengagumi Syariati. Ketika kita terjun ke arena politik dan pembahasan sosial, harus kita katakan bahwa antara Syariati dan Imam atau ulama secara umum tidak ada konflik.

Sumber: Iran va Enghelab-e Eslami, Hamid Algar, Penerbit Sepah-e Pasdaran-e Enghelab-e Eslami, Tim Penerjemah Sepah-e Pasdaran



[1] Hamid Algar, seorang sarjana muslim yang dilahirkan di Inggris pada tahun 1940. Algar menjadi guru besar kajian Islam dan Bahasa Persia di Universitas California, Berkeley. Spesialisasinya adalah sejarah Syiah di Iran (khususnya abad ke-19 dan 20) dan tasawuf (khususnya Naqsabandiyah dan perkembangannya di Asia Tengah, India, Kurdistan, Turki, dan Balkan). Algar memperoleh gelar sarjana dan doktornya dari Universitas Cambridge dan mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Universitas Tehran. Algar memiliki lebih dari 100 artikel di Encyclopaedia Iranica. Pent.

[2] Ahli bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan bangsa-bangsa Timur (Asia). Pent.