Akhlak Politik Perspektif Imam Ali a.s. (Bagian Pertama)

Tulisan ini membahas kedudukan dan landasan akhlak dalam teori dan praktik politik Imam Ali a.s. Beberapa premis terpenting dalam pandangan akhlak beliau terhadap politik adalah: Penghambaan Ilahi, keyakinan terhadap akhirat, dan penegakan keadilan. Selain itu, manifestasi ide-ide ini tertuang dalam praktik politik beliau di masa pemerintahan beliau, yaitu komitmen terhadap prinsip-prinsip akhlak dalam tujuan-tujuan politik.

Target terpenting Imam Ali a.s. adalah menciptakan ilustrasi politik yang berakhlak melalui usaha teoritis dan praktis. Tulisan ini berusaha menjelaskan landasan-landasan teoritis dan praktik akhlak politik perspektif Imam Ali a.s.

a) Landasan Teori Akhlak Politik Imam Ali a.s.

Pandangan Imam Ali a.s. sepenuhnya berlandaskan Alquran dan Sunnah Nabi saw. Pengaruh tarbiah Nabi saw. membentuk kepribadian seorang manusia seperti Imam Ali a.s.[1]

Islam dan Nabi saw. berhasil mempersembahkan figur sangat berakhlak yang tidak pernah memikirkan sesuatu selain kebenaran. Pemikiran-pemikiran akhlak politik sosok ini sangat original dan fundamental.

b) Bentuk Teori Akhlak Politik Imam Ali a.s.

Yang dimaksud dengan akhlak politik atau politik berakhlak adalah akhlakisasi politik dalam metode dan tujuan. Metode politik mencakup berbagai unsur seperti cara mencapai kekuasaan, metode pemerintahan, sistem politik, akhlak pemimpin dan pejabat, menjaga hak-hak masyarakat dan menjauhi kezaliman.

Pembahasan ini menjadi signifikan karena Nabi saw. menyebut filsafat pengutusan untuk menyempurnakan makarim akhlak.[2] Riwayat ini menunjukkan pentingnya akhlak menurut Islam. Qurb Ilahi, kebahagiaan dan kesempurnaan individu dalam Islam menjadi tujuan akhir akhlak. Oleh karena itu, firman-firman Ilahi adalah landasan akhlak, sedangkan qurb Ilahi menjadi tujuan final akhlak. Politik berakhlak mempersiapkan kebahagiaan sosial.

Politik yang berakhlak perspektif Imam Ali a.s. memiliki berbagai bentuk dan landasan berikut:

1. Kebenaran dan Akhlak Politik

Kebenaran dan perintah-perintah Ilahi, menurut Imam Ali a.s. menjadi landasan akhlak. Beliau mengikuti firman-firman Ilahi dan menjaga penuh prinsip-prinsip akhlaki dalam kehidupan individual dan politik. Inti dari pemikiran akhlaki Imam Ali adalah pemisahan antara yang haq dari yang batil dan ketaatan penuh kepada Yang Maha Haq.[3]

Menurut Imam Ali, memilih kebenaran sangat penting, namun mengikutinya jauh lebih penting lagi. Oleh karena itu, relativisme dalam hal ini tidak berarti. Seluruh perjuangan beliau hanya untuk menunjukkan perbedaan kebenaran dengan kebatilan.

Konflik utama manusia terletak pada konflik kebenaran dan kebatilan. Melalui basirah agama dan Ilahi, beliau melihat bahwa faktor perselisihan terbesar adalah karena sebagian umat manusia mengikuti kebenaran dan sebagian lain mengikuti kebatilan:

"Terdapat dua jalan kebenaran dan kebatilan. Masing-masing memiliki pengikut. Apabila kebatilan menang atau kebenaran kalah, hal itu telah terjadi.”[4]

Atas dasar itulah, Imam Ali a.s. menerima pemerintahan dari umat hanya supaya beliau dapat mengokohkan pondasi kebenaran dan memberantas kebatilan:

"Demi Allah! Sepatu ini lebih aku cintai dari kekuasaan dan pemerintahan atas kalian; kecuali untuk menegakkan kebenaran atau mencabut akar kebatilan.”[5]

Imam Ali meyakini bahwa: "Apabila kebenaran bercampur dengan kebatilan, hanya orang-orang yang diberikan anugerah Allah saja yang dapat selamat. Apabila kebatilan tidak bercampur dengan kebenaran, para pencari kebenaran tidak akan tersesat. Dan apabila kebenaran tidak bercampur dengan kebatilan, orang-orang yang menaruh kebencian kepadanya akan dibungkamkan. Namun sebagian kebatilan bercampur dengan kebenaran. Dalam kondisi ini, iblis menguasai dan menipu para pengikutnya. Yang dapat melepaskan diri hanyalah mereka yang telah diberi Allah anugerah dan kebajikan.”[6]

Menegakkan dan mengamalan kebenaran, menurut Imam Ali a.s. sebagai tugas utama penguasa dalam politik dan kekuasaan. Tidak mungkin memisahkan akhlak dari politik, karena akhlak menjadi bagian dari politik. Politik yang keluar dari lingkaran akhlak dengan sendirinya keluar dari kebenaran. Prinsip akhlak dalam politik menjadi buah prinsip kebenaran dalam teori politik.[7]

2. Keyakinan terhadap akhirat menjadi landasan teori politik yang berakhlak

Dalam sistem akhlaki Imam Ali a.s., tujuan final dari seluruh pemikiran dan perbuatan adalah kebahagiaan akhirat dan taqarub kepada Allah. Dalam politik pun, akhlak politik Imam Ali a.s. berorientasi kepada akhirat sehingga beliau tidak pernah berkompromi dalam area akhlak.

Setiap perbuatan yang lebih mengedepankan dunia dan keuntungan duniawi daripada akhirat dan kebahagiaan ukhrawi, akan sia-sia. Tidak ada satu pun tujuan tinggi duniawi yang memperbolehkan manusia mendekati hal-hal yang mengakibatkan siksa ukhrawi.

Pandangan ini memiliki akar yang menjadi elemen pemikiran politik Imam Ali a.s. Ringkasnya, setiap praktik yang mengarahkan kepada kebahagiaan ukhrawi menjadi mulia dan setiap praktik yang berujung kepada kerugian ukhrawi menjadi tercela. Hal ini juga berlaku dalam seluruh dimensi kehidupan politik, sosial, dan individual manusia.

Tentunya penekanan terhadap hal ini bukan berarti mengabaikan dunia. Tujuan kehidupan adalah kebahagiaan ukhrawi. Inti pandangan Imam Ali a.s. tentang dunia terdapat dalam dua ucapan berikut:

"Sesungguhnya dunia ini adalah tempat (memperoleh) kebenaran bagi orang yang mendapatkannya.”[8]

"Sungguh aku telah mencampakkan dunia yang menipu ini, aku telah melakukan perhitungan dengannya dan akan memandangnya dengan sebelah mata sesuai dengan (keberadaan)nya.”[9]

Singkatnya, akhirat menjadi tujuan final dan dunia menjadi sarana. Sarana tetap akan berharga bilamana berkhidmat untuk mencapai tujuan final:

"Bila seseorang menjadikan dunia sebagai sarana, ia akan tetap terjaga dan bila menjadikannya sebagai tujuan, ia akan dibutakan olehnya.”[10]

3. Akhlak individual dan akhlak politik

Dalam pemikiran akhlaki Imam Ali a.s., tidak pernah ada pemisahan antara akhlak individual dan akhlak politik. Imam Ali a.s. yang menjadi manifestasi nyata dan teladan akhlak individual, juga menjadi teladan dalam politik yang mementingkan maslahat umat. Hal itu dapat dijelaskan dalam dua poin berikut ini:

a) Kepatuhan Imam Ali a.s. terhadap akhlak dalam urusan politik menjadi bagian tidak terpisahkan dari teori akhlaki beliau. Bila Imam Ali tidak melakukan perbuatan non-akhlaki dalam kehidupan individual, beliau pun tidak melakukannya dalam politik, karena hal itu bertentangan dengan tujuan final.

b) Tujuan Imam Ali a.s. dalam politik, menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umat. Hal ini akan terwujud saat pemerintah dan para pejabatnya mematuhi prinsip-prinsip akhlaki dalam berpolitik. Maka penekanan dititikberatkan kepada komitmen pemimpin terhadap akhlak:

"Wahai manusia! Demi Allah, aku tidak memerintah kalian untuk menaati sesuatu kecuali aku telah melaksanakannya sebelum kalian, dan aku tidak melarang kalian dari suatu pelanggaran sebelum aku sendiri telah menolaknya.”[11]

4. Tujuan politik

Dalam politik yang berakhlak, tujuan akhlakisasi politik berada dalam target dan metode. Dalam surat kepada Malik Asytar, Imam Ali a.s. menyebut salah satu tujuan utama pemerintahan adalah memberikan kemaslahatan kepada penduduk Mesir, yaitu memberikan petunjuk akhlaki kepada rakyat untuk kebahagiaan umat, bimbingan untuk mengikuti perintah-perintah Ilahi dan akal, dan menguasai syahwat dan hawa nafsu.



[1] Nahjul Balaghah, Khutbah ke-192:

"Pastilah kalian tahu akan kekerabatan dekat dan hubungan khususku dengan Rasulullah saw. Ketika aku masih kanak-kanak, beliau mengasuhku. Beliau biasa menekankan dadaku ke dada beliau… dan aku selalu mengikuti beliau seperti seekor anak unta mengikuti jejak kaki induknya.”

[2] Menukil dari Majmue-ye Osor, Syahid Muthahhari, jilid 16, halaman 205.

[3] "Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya! Aku melangkahkan kaki di jalan yang haq.” Nahjul Balaghah, Khutbah ke-197.

[4] Ibid, Khutbah ke-16.

[5] Ibid, Khutbah ke-33.

[6] Ibid, Khutbah ke-50.

[7] "Sejak kebenaran ditunjukkan kepadaku, aku tak pernah merasa ragu tentangnya.” Ibid, Hikmah ke-184.

[8] Ibid, Hikmah ke-131.

[9] Ibid, Khutbah ke-128.

[10] Ibid, Khutbah ke-82.

[11] Ibid, Khutbah ke-175.