Haidar Sutiawan
Mengkaji Sirah Perjalanan Imam Ridha as; Menguak Perkara Hijrah dan Wali Ahd Imam Ridha as

Kita banyak menyaksikan peristiwa hijrah di sepanjang sejarah. Hijrah terkadang menjadi sebab perubahan signifikan. Kita bisa melihat pada fenomena sejarah awal Islam. Keadaan Islam ketika Nabi saw di Madinah, tentulah sangat berbeda dengan keadaan beliau tatkala di Mekah sebelum hijrah.

Dalam sejarah Syiah, kita juga menyaksikan bahwa sebagian besar Imam Maksum as melakukan hal yang sama, yakni berhijrah. Tentunya, sebab-sebab hijrah mereka pun berbeda antara satu sama lainnya. Salah satu dari Imam Maksum as yang berhijrah adalah Imam Ridha as. Dalam sejarah tercatat bahwa beliau hijrah dari Madinah menuju Iran tepatnya di Khurasan.

Berkenaan dengan hijrahnya Imam Ridha as, ada pertanyaan yang sering terlontar untuk para pengkaji sejarah. Yaitu apa sebenarnya alasan Imam menerima usulan Makmun untuk berhijrah ke Khurasan, yang mana membuat beliau meninggalkan keluarga dan tempat kelahirannya di Madinah? Mengingat bahwa Makmun adalah keturunan Bani Abbas yang dalam sejarah tercatat sebagai daulah yang zalim terhadap Ahlulbait as dan pengikutnya, apakah dalam hijrah Imam ke Khurasan tersebut terdapat keuntungan dan manfaat bagi Ahlulbait dan pengikutnya?

Selanjutnya yang menjadi pembahasan dan sering dikaji dalam sejarah hidup Imam Ridha as adalah Wali Ahd (bahasa Arab) atau Wilayat-e Ahdi-e (bahasa persia) Imam Ridha as atau yang penulis terjemahkan dengan kata Putra Mahkota Imam Ridha as. Muthahhari pernah menyampaikan ceramah terkait hal ini dan sekarang telah ditranskip menjadi buku saku sebanyak 85 halaman dengan judul Wilayat-e Ahdi-e Imam Ridha as, dalam buku tersebut dikatakan bahwa kata Wali Ahd yang bermakna calon pengganti khalifah belum pernah dipakai dalam sejarah awal Islam. Muthahhari mengatakan bahwa, "Memang Muawiyyah menjadikan Yazid sebagai calon pengganti khalifah dan meminta masyarakat untuk membaiat dan berjanji setia kepadanya, akan tetapi tidak memakai kata Wali Ahd.” Kemungkinan kata Wali Ahd ini pertama kali digunakan dalam sejarah Imam Ridha as.

Para pengkaji sejarah mempertanyakan hal ini, yaitu kenapa Imam Ridha as menerima posisi Putra Mahkota Makmun Abbasi? Seakan-akan secara lahiriah Imam mendukung kekhalifahannya. Bukankah kekhalifahan adalah hak Imam sendiri? Apa sebenarnya yang terjadi?

Meskipun masih banyak kekurangan, namun artikel ini hadir untuk menjawab keraguan dan pertanyaan yang penulis jelaskan di atas. Penulis juga berusaha menghadirkan sebuah artikel dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, namun hal itu juga tidak menutup kemungkinan untuk penulis menghadirkan jawaban yang komplit serta sesuai takaran yang diinginkan oleh pembaca.

Adapun yang menjadi pembahasan penulis kali ini, adalah;

1. Siapakah Imam Ridha as?

2. Siapakah Makmun Abbasi?

3. Bagaimana kronologi dan apa alasan hijrah Imam Ridha as ke Khurasan?

4. Bagaimana kronologi dan apa alasan Imam Ridha as menerima tawaran Makmun untuk menduduki kursi Putra Mahkota?


· Siapakah Imam Ridha as?

Imam Ali bin Musa ar Ridha as lahir di kota Madinah, tanggal 11 bulan Dzulqa’dah 147 H. dan dalam referensi yang lain disebutkan bahwa beliau lahir di tahun 148 H. Ayah beliau bernama Imam Musa bin Ja’far dan Najmah atau Taktum adalah nama dari ibunda beliau. Gelar beliau adalah Abu Hasan dan nama panggilan beliau adalah Ridha.

Setelah kesyahidan Imam Musa bin Ja’far as di penjara Baghdad, Imam Ridha as, pada bulan Rajab 183 H, menjadi Imam ke delapan untuk kaum Syiah 12 Imam.

Dalam sejarah disebutkan bahwa Imam sering melakukan perjalanan pada dua kota, Basrah dan Kufah, yang mana dua kota ini menjadi pusat keilmuan pada waktu itu, untuk melakukan diskusi ilmiah dengan para pemikir dan pengikut agama di sana. Hal ini terjadi dikarenakan adanya keraguan umat tentang keimamahan beliau yang telah sengaja diciptakan oleh para musuh Ahlulbait as.

Selanjutnya adalah Imam Ridha as syahid pada bulan Safar tahun 203 H (pada usia ke 55) di Khurasan, tepatnya di kota Masyhad sekarang.

· Siapakah Makmun bin Harun Abbasi?

Harun Abbasi memilih tiga orang dari beberapa putranya untuk dijadikan putra mahkota. Mereka adalah Muhammad Amin, Abdullah Makmun (Makmun Abbasi), dan Qasim Mu’tamin.

Harun di zaman pemerintahannya menjadikan Amin sebagai putra mahkota dan mengambil baiat dan janji setia dari masyarakat untuk Amin. Begitu juga dengan Makmun yang mana ibunya adalah seorang perempuan berkebangsaan Iran, Harun menjadikannya sebagai putra mahkota ke dua.

Setelah Harun meninggal dunia, Amin naik menjadi khalifah di kota Baghdad. Namun pemerintahan Amin hanya bertahan selama lima tahun. Dia meninggal dunia di tahun 198 H karena terjadi perseteruan dengan saudaranya sendiri yakni Makmun. Dengan meninggaldunianya Amin, maka Makmun Abbasi berhak mendapatkan hak pemerintahan sepenuhnya.

· Kronologi dan alasan Imam Ridha as hijrah dari Madinah ke Khurasan.

Makmun berulang kali dan terus menerus menyurati Imam Ridha as untuk hijrah dari Madinah ke Khurasan. Awalnya Imam menolak permintaan tersebut, namun dikarenakan surat yang terus berdatangan dari Makmun, maka Imam pun bersama beberapa keluarganya pergi hijrah ke Khurasan. Sebelum pergi, Imam as mengumpulkan keluarganya dan berpesan untuk menangisinya serta berkata, "Aku tak akan berkumpul lagi dengan keluargaku.”

Sesampainya Imam di Khurasan, Makmun menawarkan Imam untuk menjadi Khalifah di sana. Akan tetapi Imam as menolaknya. Lalu Makmun berkata, "Karena kau menolak untuk menjadi khalifah maka jadilah putra mahkota untukku!” Namun Imam kembali menolak tawaran itu. Keberatan Imam ini membuat Makmun marah besar. Lalu Makmun mengancam membunuh Imam apabila masih bertahan dengan keberatan tersebut.

Melihat kronologi ini menjadi jelas bahwa undangan Makmun bukan semata-mata karena kecintaan dia kepada Imam Ridha as, melainkan ada rencana dan taktik kotor di balik semua itu. Namun tidak demikian dengan Imam Ridha as, beliau tidak pergi ke Khurasan dengan tangan kosong. Namun beliau beranjak dari Madinah dan hijrah ke Khurasan dengan sejuta rencana matang.

Sebelumnya Nabi saw dan Para Imam as telah meramalkan kedatangan Imam Ridha as ke Khurasan, Iran. Sebagaimana dalam hadits Nabi saw, "Nanti akan ada sebagian tubuhku yang akan disemayamkan di bumi Khurasan. Setiap mukmin yang menziarahinya di sana, Allah swt akan memasukannya ke surga.”

Imam Ali as juga berkata bahwa, "Nanti salah satu dari keturunanku akan disemayamkan di bumi Khurasan. Ia syahid karena dizalimi dan diracun. Namanya adalah namaku dan nama ayahnya adalah nama seorang Nabi Ilahi yaitu Musa bin Imran. Ketahulilah ! Siapa saja yang menziarahinya dalam keterasingannya maka Allah swt akan mengampuni dosa-dosanya.”

Setelah itu mari kita membaca dan mengkaji apa penyebab dari hijrahnya Imam Ridha as ke Khurasan, selain surat dan ancaman Makmun Abbasi.

Berikut ini adalah beberapa alasan Imam Ridha as hijrah ke Khurasan, Iran.

1. Adanya ragam pemikiran dan mazhab di Iran

Adanya pemikiran-pemikiran mazhab seperti Syiah Imamiyah, Zaidiyah, Syiah Abbasi, Ahli Hadits, Muktazilah, dan Sufi merupakan sesuatu yang bahaya untuk agama Islam (yakni dapat menyebabkan umat Islam terpecah belah). Ahlu Hadits merupakan salah satu kelompok Utsmani yang berperan sebagai penentang Imam Ali as. Muktazilah berperan sebaliknya, Muktazilah mempunyai pandangan positif pada Imam Ali as. Demikian pula halnya dengan Makmun yang mana pada waktu itu ia meyakini paham Muktazilah, sehingga ia juga dihitung sebagai Syiah. Tapi pengikut Syiah yang membunuh Imamnya. Dengan kehadiran Imam di negeri ini mampu memperkecil potensi pecah belah dalam tubuh umat Islam.

2. Terdapat berbagai macam Agama di Iran.

Aneka Ragam agama di Iran dapat membahayakan Islam. Karena akan terjadi komunikasi dan pembahasan lintas agama. Bisa jadi berbagai pertanyaan muncul dari komunikasi ini sehingga membutuhkan seorang Alim yang dapat menjawab dan mempertahankan akidah Islam.

Dalam komunikasi dan pembahasan ini diperlukan seseorang yang mempunyai ilmu laduni dan memiliki pemahaman yang sempurna terkait agama-agama lain seperti Yahudi, Masihi, Shaibi, Zindiq, dan lainnya. Kedatangan Imam juga dalam rangka mengisi kekosongan ini. Tak ada yang mampu mempertahankan agama Islam dalam komunikasi lintas agama ini melainkan Imam Ridha as.

3. Iran merupakan wilayah yang strategis untuk penyebaran Islam.

Secara geografis, Iran merupakan sebuah wilayah yang strategis yang menghubungkan negara India, Pakistan, dan Cina dengan Irak dan Saudi Arabia. selain wilayahnya yang strategis, Iran juga mempunyai sebuah kelebihan yaitu masyarakat pada waktu meyakini bahwa budaya agama Zardtusti, yang waktu itu dipeluk oleh mereka, mempunyai kedekatan dengan ajaran Islam. Dengan memperhatikan hal ini, maka Iran merupakan sebuah wilayah yang berpotensi besar untuk menumbuh-kembangkan pemikiran Islam pada waktu itu.

4. Hubungan dengan para Syiah di Khurasan dan memantau mereka secara dekat.

Salah satu tujuan Imam Ridha as hijrah ke Khurasan adalah bertemu dan melihat para pengikut Syiah dari dekat. Juga mendidik dan menguatkan aqidah mereka terhadap ajaran Syiah. Hal ini pula yang menjadi sebab marahnya penguasaan Abbasi pada waktu itu.

Bukti dari hal ini adalah datangnya penduduk Neishabur dan Khurasan untuk bertemu dengan Imam Ridha as. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk berkhidmat dan juga mempertanyakan serta meminta jawaban dari Imam Ridha akan masalah mereka, terutama masalah syariat. Dan mereka pun mendapatkan jawaban yang tepat dan akurat dari beliau.

5. Bentuk ketaatan kepada Allah Swt.

Imam Ridha as hijrah ke Khurasan dengan perencanaan matang setelah dipaksa oleh Makmun Abbasi. Terkait hijrah ini Imam berdoa "Ya Allah, tidak ada janji selain Janji-Mu dan tak ada wilayah selain Wilayah-Mu. Berikanlah taufik kepadaku sehingga dapat menegakkan agama-Mu dan mampu menghidupkan sunah Nabi-Mu.”

Doa Imam Ridha as di atas menunjukan bahwa hijrahnya ke Khurasan adalah salah satu bentuk ketaatan beliau kepada Allah swt dan hijrah ini juga sebagai bentuk tunduknya beliau dengan ramalan riwayat dari Nabi saw dan kakeknya, Imam Ali as, bahwa Imam Ridha akan disemayamkan di sana.

6. Membentuk masyarakat Syiah

Imam melihat bahwa Iran dan masyarakatnya memiliki potensi untuk menjadi sebuah komunitas Syiah. Karena itu langkah awal beliau untuk merealisasikan hal ini adalah menerima paksaan hijrah dari Makmun Abbasi dan memilih negara Iran sebagai pusat dari Syiah Imamiyah di kemudian hari.

7. Ancaman gerakan terjemah

Imam Ridha as merasakan adanya bahaya gerakan penerjemahan kitab asing yang lagi marak di zaman itu. Karena gerakan ini dikhawatirkan mampu memporak-porandakan budaya Islam yang murni. Abdullah bin Muqafa’ dengan menerjemahkan buku (رسالة الصحابة و الدرة الیتیمة) bermaksud untuk mengubah dan mengarahkan pemikiran masyarakat Iran untuk menerima pemerintahan Arab Abbasi. Akan tetapi penerjemahan ini memang sudah berlangsung di kala pemerintahan Bani Umayyah, namun baru mencapai puncaknya kala Bani Abbas naik sebagai khalifah, khususnya di zaman Harun dan Makmun.

· Kronologi dan alasan Imam Ridha as menjadi Putra Mahkota.

Kalau kita sebelumnya menyaksikan bahwa para penguasa Umayyah dan Abbasi berlaku kejam kepada para Imam Maksum as, maka di zaman pemerintahan Makmun, kita melihat ia seakan-akan memperlakukan Imam Ridha as dengan baik dan secara lahiriah menunjukan kecintaannya pada beliau. Sikap Makmun ini salah satunya disebabkan bahwa penduduk yang berada di bawah kuasanya, kebanyakan adalah orang Persia yang bermazhab Syiah yang mencintai para Imamnya. Maka dari itu, Makmun tidak bisa bersikap seperti pendahulunya terhadap Imam Ridha as dan sebaliknya ia harus mencari jalan lebih halus untuk menyingkirkan Imam Ridha as. Dan salah satu cara halus itu adalah memaksa Imam Ridha as untuk datang ke Khurasan dan menjadikan beliau sebagai Putra Mahkota di sana.

Muthahhari menukil dari Syeikh Shaduq, bahwa usia Imam Ridha as ketika menjadi putra mahkota adalah berkisar 47 tahun, sedangkan usia Makmun ada yang menyebutkan 28 tahun dan sebagian menyebutkan kurang dari 30 tahun. Makmun berkata kepada dirinya sendiri, "Menjadikan Imam Ridha as sebagai Putra Mahkota bukan merupakan sebuah ancaman untukku. Minimal dia dua puluh tahun lebih tua dari ku. Biarkan dalam beberapa tahun ini, dia tinggal di sini dan tentunya ia akan meninggal dunia sebelum aku.”

· Alasan Imam Ridha as menerima menjadi Putra Mahkota.

1. Alasan Imam Ridha as menerima tawaran (yang sebenarnya adalah ancaman) adalah menjaga diri beliau, para Alawi, (keturunan Imam Ali as), dan para pencinta Ahlulbait as dari kepunahan. Imam sadar bahwa kehadirannya masih sangat urgent di tengah umat Islam.

2. Ingin menunjukkan kepada umat Islam, khususnya Bani Abbasi, bahwa Alawi mempunyai saham untuk duduk di salah satu kursi pemerintahan.

3. Imam ingin menunjukkan bahwa seorang Imam juga memperhatikan keadaan masyarakat. Karena pada waktu itu telah tersebar kabar dan berita bohong bahwa Imam hanyalah seorang Faqih dan Alim yang dalam amalnya tak pernah memperhatikan urusan masyarakat.

4. Imam Ridha as, di hari-hari menjadi putra mahkota, selalu mencoba meyakinkan masyarakat untuk melihat sisi dan tujuan asli Makmun Abbasi dalam menjadikan beliau sebagai Putra Mahkota.

Kesimpulan

Sebenarnya apabila kita melihat alasan-alasan Imam Ridha as hijrah dari Madinah ke Khurasan di atas, mungkin kita akan berpikir bahwa hijrahnya Imam as bukan merupakan sebuah pemaksaan Makmun, hijrahnya Imam adalah hijrah biasa atau bahkan Imam as mempunyai keuntungan tersendiri ketika berada di Khurasan, akan tetapi keadaannya tidaklah begitu. AncAsaman kematian dari Makmunlah yang menyebabkan Imam Ridha as hijrah dari Madinah ke Khurasan. Namun demikian, tidak pula menutup kemungkinan bahwa Imam pun mempunyai sejuta rencana yang berhubungan dengan menjaga kemurnian Islam Muhammadi saw ketika berada di Khurasan. Penulis yakin seratus persen bahwa keuntungan yang didapatkan oleh Islam adalah hasil kecerdasan Imam as memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yang ada.

Perihal Putra Mahkota, penulis akan menutupnya dengan sebuah riwayat, pada waktu itu salah satu sahabat Imam Ridha as bertanya pada beliau, "Wahai cucu Rasulullah! Masyarakat berkata bahwa meskipun engkau menampakkan kezuhudan, namun kenapa engkau menerima posisi sebagai Putra Mahkota?” Imam menjawab, "Allah swt mengetahui bahwa aku tak menginginkan posisi ini, namun ketika pilihan yang ada antara menerima posisi Putra Mahkota dan kematian maka aku memilih untuk menerima posisi Putra Mahkota.” Setelah itu beliau melanjutkan, "Apakah kalian tidak mengetahui bahwa Nabi Yusuf as pun diperintahkan Allah swt untuk menerima tawaran menjadi orang yang mengurus pembendaharaan raja. Seperti halnya pada diriku, aku memilih posisi ini dengan terpaksa.

Daftar Pustaka:

1. Jurnal "FaslNomeh Shirat”, Pezuheshy Madzahib-e Islami, No 13, 1394. (Tahun Persia)

2. Murtazawi, Sayid Muhammad, Wilayat-e Ahdi-e Imam Ridha as, Penerbit Astan Quds Rezawi, Masyhad, Iran. 1385 (Tahun Persia).

3. Muthahhari , Murtadha, Wilayat-e Ahdi-e Imam Ridha as, Intisharat-e Shadra, Qum, Iran. 1392 (Tahun Persia)

4. Pishwayi, Mahdi, Sima-e Pishwayan dar Ayneh-e Tarikh, Intisharat-e Darul Ulum, Qum, Iran. 1391 (Tahun Persia)