Bagian Pertama
Berbagai Keutamaan Fatimah Maksumah a.s. Yang Belum Banyak Diketahui

Berbagai Keutamaan Fatimah Maksumah a.s. Yang Belum Banyak Diketahui

Kata kunci: Sayidah Maksumah, Fatimah Maksumah, Karimah Ahlulbait.

Republik Islam Iran berkehormatan menjadi persinggahan terakhir sebagian keturunan Nabi saw. Keberkahan dua orang mulia di antara mereka yang paling menonjol adalah Imam Ali Ar-Ridha dan Sayidah Fatimah Maksumah a.s. Banyak ulama besar sering menyebutkan keberkahan wujud Sayidah Maksumah. Pengurus makam Sayidah Maksumah a.s. pernah menukil: "Suatu hari Ayatullah Behjat berkata kepadaku, "Ada satu hal yang hanya akan aku katakan kepadamu supaya engkau mengetahui sedang berada di mana engkau saat ini. Terkadang Imam Ridha a.s. menyerahkan pemenuhan sebagian hajat kepada adik beliau, Sayidah Maksumah. Misalnya, baru saja seseorang datang kepadaku dan mengatakan bahwa ia memiliki hajat dan pergi berziarah sambil memohon kepada Imam Ridha a.s. Lalu dikatakan kepadanya supaya pergi ke Qom untuk menziarahi makam Sayidah Maksumah. Ia pun menziarahi Qom dan memohon hajatnya kepada beliau. Hajatnya pun terpenuhi.”

Syeikh Behjat melanjutkan, "Berhati-hati dan lihatlah sedang berada di mana engkau saat ini. Di makam Sayidah Maksumah a.s. terdapat malaikat-malaikat yang selalu mengawasi amal perbuatan orang-orang yang sedang berziarah ke sana.””[1]

Barangkali ada yang beranggapan bahwa kedudukan dan keagungan yang hingga hari ini dimiliki oleh makam Sayidah Maksumah a.s. dikarenakan kedudukan dan keagungan kota Qom.[2] Karena beliau hadir dan dimakamkan di Qom sehingga menjadi perhatian kaum Syiah dan para pencinta Ahlulbait a.s.

Namun dari berbagai riwayat dan ucapan para maksum dapat disimpulkan bahwa beliau memiliki kedudukan yang berbeda dengan para keturunan imam yang lainnya. Kedudukan tinggi ini bahkan mendekatkan beliau kepada kedudukan para maksum. Artinya, selain pengaruh dan usaha dalam menjaga dan memperkokoh Islam, beliau memiliki berbagai kesempurnaan substansial dan inheren khusus yang jarang terlihat pada orang lain.

Berikut ini sebagian dari keistimewaan tersebut:

1- Syafaat Sayidah Maksumah a.s.

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata, "Ketahuilah bahwa Allah swt memiliki haram, yaitu Makkah, Rasulullah saw memiliki haram, yaitu Madinah, Amirul Mukminin Ali a.s. memiliki haram, yaitu Kufah. Sedangkan Qom adalah Kufah kecil. Ketahuilah bahwa surga memiliki 8 pintu yang 3 di antaranya akan terbuka dari Qom…”

Hadis di atas masih membicarakan keutamaan kota Qom sebagaimana banyak hadis lainnya, namun kelanjutan ucapan Imam Shadiq a.s. menyebutkan tentang Sayidah Maksumah secara khusus, "Seorang perempuan dari keturunanku bernama Fatimah binti Musa akan wafat di Qom. Seluruh Syiahku akan masuk surga dengan syafaatnya.”[3]

Dalam riwayat lain, Imam Shadiq menyebutkan, "Seorang perempuan dari keturunanku yang bernama Fatimah akan dimakamkan di kota Qom. Barangsiapa menziarahinya, surga wajib baginya.”[4]

Beberapa catatan penting sekitar riwayat di atas:

* Ucapan tersebut disampaikan oleh Imam Ja’far Shadiq a.s. pada tahun kelahiran Imam Musa Al-Kazhim (lebih dari 45 tahun sebelum kelahiran Fatimah Maksumah dan sekitar 70 tahun sebelum Sayidah Maksumah wafat dan dikebumikan di Qom).

* Dua kedudukan penting Sayidah Maksumah dijelaskan dalam dua riwayat di atas; syafaat umum dan kewajiban surga bagi penziarahnya.

* Banyak yang akan memberikan syafaat pada hari kiamat kelak, namun jarang disebutkan syafaat mereka akan mencakup seluruh Syiah, kecuali Sayidah Fatimah Zahra a.s.

2- Manifestasi Az-Zahra a.s.

Ayatullah Mar’asyi Najafi menukil dari ayah beliau Ayatullah Sayed Mahmud Mar’asyi bahwa beliau tinggal di Najaf dan sangat ingin menemukan tempat nenek beliau, Fatimah Az-Zahra a.s. dikebumikan dan menziarahinya. Dengan maksud tersebut, beliau melakukan amalan khusus (beribadah dan menjalankan berbagai amalan lain selama 40 malam di makam Amirul Mukminin a.s.) dengan harapan memperoleh petunjuk dari Imam Ali terkait keberadaan makam Az-Zahra.

Pada malam ke-40 setelah melakukan khataman dan berbagai jenis tawasul, beliau terlelap tidur. Dalam tidur sekejap tersebut, beliau bermimpi menghadap Imam Baqir atau Imam Shadiq a.s. yang berpesan, "Berziarahlah ke Karimah Ahlulbait.”[5]

Ayatullah Mar’asyi melanjutkan, "Ayahku berpikir maksud imam adalah menziarahi Az-Zahra. Oleh karena itu, ayah berkata, "Diriku menjadi tebusan Anda! Aku melakukan berbagai amalan ini memang dengan tujuan itu.””

Imam berkata, "Yang aku maksud adalah makam Fatimah Maksumah di Qom. Makam Bunda Zahra adalah rahasia Ilahi. Sesuai wasiat beliau, makam harus tetap tersembunyi. Aku tidak dapat memberitahukannya karena akan melanggar wasiat beliau. Pergilah berziarah ke Fatimah Maksumah karena itu sama halnya dengan berziarah kepada Bunda Zahra.”[6]

Kemudian Ayatullah Mar’asyi Najafi berkata, "Maka dengan niat menziarahi makam Bunda Zahra, dengan perintah ayahku aku pergi ke Qom berziarah kepada Fatimah Maksumah. Setelah tiba di Qom almarhum Haji Syeikh Abdul Karim Hairi, pendiri hauzah ilmiah Qom menahanku untuk menetap di sana.”

Imam Khomeini yang dikenal dengan irfan dan kedalaman pengetahuan agama, dalam sebuah gubahan sair 44 bait menyandingkan Sayidah Maksumah dengan Sayidah Zahra a.s. dan menyebutkan berbagai kesamaan dua perempuan mulia di dunia ini dengan bermacam keutamaan dan kemuliaan.[7]

Seorang mukmin yang cerdas harus mempelajari keyakinan dan akidahnya dari ulama level teratas, termasuk Imam Khomeini, karena pandangan mereka dapat dianggap sebagai sanad (sandaran) yang kokoh untuk seluruh kaum mukminin.

3- Ayahnya menjadi tebusannya!

Salah satu hadis Nabi saw. yang cukup mencengangkan adalah sebuah ucapan yang seringkali disampaikan berkenaan dengan Sayidah Fatimah Zahra a.s., "Semoga ayahnya menjadi tebusannya.”[8]

Yang menarik bahwa kalimat ini pun diucapkan oleh Imam Musa bin Ja’far a.s. berkenaan dengan Fatimah Maksumah. Suatu hari sekelompok pengikut Syiah datang ke Madinah ingin menghadap Imam Musa Kazhim a.s. untuk menanyakan berbagai persoalan. Ketika tiba di rumah beliau, mereka diberitahukan bahwa beliau sedang tidak berada di tempat. Maka mereka menuliskan berbagai persoalan yang ingin ditanyakan. Mereka menitipkannya kepada anggota keluarga Imam dan jawabannya akan mereka ambil pada kesempatan berikutnya.

Setelah itu, mereka masih menetap di Madinah untuk beberapa waktu. Ketika mereka datang ke rumah Imam Kazhim kembali untuk berpamitan, mereka menerima jawaban tertulis. Yang membuat mereka takjub, mereka mendapati bahwa jawaban tersebut ditulis dan dipersiapkan oleh Sayidah Maksumah yang saat itu berusia tidak lebih dari 6 tahun.

Ketika mereka pulang dan di tengah perjalanan bertemu dengan Imam Musa yang kembali dari perjalanan, mereka memberitahukan peristiwa itu kepada beliau. Imam meminta tulisan tersebut dan melihatnya. Beliau mendapati jawaban-jawaban yang diberikan oleh Fatimah Maksumah benar. Lalu beliau memujinya dan berkata hingga tiga kali, "Semoga ayahnya menjadi tebusannya.”[9] [10]

4- Muhadditsah

Dalam rangka membela wilayah dan menetapkan kebenaran Ahlulbait a.s., salah satu perawi terpenting hadis Ghadir Khum dan hadis Manzilah "يا علي أنت مني بمنزلة هارون من موسى” adalah Fatimah Maksumah. Beliau meriwayatkan dua hadis penting itu dari Fatimah, putri Imam Shadiq, dari Fatimah, putri Imam Baqir, dari Fatimah, putri Imam Sajjad, dari Fatimah, putri Imam Husain, dari Ummu Kulsum, putri Fatimah Zahra a.s.

Rangkaian sanad dalam kumpulan riwayat hadis Ghadir Khum dikenal dengan riwayat Fawatim[11] (jamak Fatimah).

5- Membela Wilayah

Kesamaan lain Sayidah Maksumah dengan Az-Zahra adalah pembelaan terhadap wilayah hingga titik darah syahadah. Keutamaan ini dapat digolongkan kepada keutamaan iktisabi beliau. Dalam rangka membela wilayah Imam Ridha a.s. dan dengan perintah beliau, Sayidah Maksumah berhijrah dari Madinah menuju Khurasan bersama kafilah yang terdiri dari putra-putri Imam. Kafilah ini dipimpin oleh Ibrahim dan Harun putra-putra Imam Kazhim a.s. Saat tiba di daerah Saveh, sekelompok orang pendukung Khalifah Abbasi menyerang kafilah. Harun dan beberapa putra imam gugur syahid dan sebagian lainnya menderita luka-luka.[12] Karena kesedihan yang mendalam atas peristiwa tersebut atau karena makanan beracun yang diberikan, Sayidah Maksumah jatuh sakit. Beliau meminta supaya dibawa ke Qom. Setelah tinggal selama 17 hari di Qom, beliau wafat.[13] [14]

6- Nasab Fatimah Maksumah

* Nama beliau adalah Fatimah Kubra, karena Imam Kazhim memiliki 3 putri bernama Fatimah dan beliau yang paling besar.

* Ibu beliau bernama Najmah Khatun.

* Gelar "Maksumah” disematkan oleh Imam Ridha a.s. untuk beliau.

* Kemuliaan nasab beliau cukup disebutkan bahwa beliau adalah putri imam, saudari (adik) imam dan bibi imam. Seluruh imam ini, selain Imam Baqir dan Imam Shadiq, meriwayatkan tentang keagungan kedudukan beliau. Beliau termasuk di antara sedikit dari keturunan imam yang keagungan dan kedudukannya disampaikan oleh 5 imam maksum.

Banyak riwayat yang menyebutkan kedudukan kota dan penduduk Qom, namun pastinya keutamaan dan keagungan beliau bukan karena beliau dimakamkan di Qom. Justru sebaliknya, di antara keutamaan terbesar yang dimiliki Qom adalah adanya makam Sayidah Maksumah.[15]

Sayidah Maksumah wafat tahun 201 H. di usia sekitar 28 tahun.

7- Imam Ridha dan Fatimah Maksumah

* Di antara 37 anak Imam Kazhim, hanya Imam Ridha dan Sayidah Maksumah yang lahir dari satu ibu, yaitu Najmah Khatun.

* Imam Ridha 25 tahun lebih tua dari Sayidah Maksumah, karena Imam Ridha lahir pada tahun 148 H., sedangkan Sayidah Maksumah lahir pada tahun 173.

* Selama 21 tahun, Sayidah Maksumah berada di bawah pengawasan Imam Ridha a.s., karena Imam Kazhim dipenjarakan pada tahun 179 atas perintah Harun, sedangkan Sayidah Maksumah pada saat itu berusia 6 tahun dan berada di bawah asuhan Imam Ridha hingga hijrah ke Khurasan pada tahun 200 H.

* Imam Ridha a.s. syahid 2 tahun setelah kepergian Sayidah Maksumah.


Bersambung…


Sumber:

https://hawzah.net/



[1] Jurnal bulanan Kausar, tahun pertama, no 12, halaman 10.

[2] Sebagaimana banyak riwayat yang mengungkap keutamaan dan signifikansi kota Qom.

[3] "تُقبَضُ فیها امراةٌ مِن وُلدی، اسمها فاطمة بنتُ مُوسی و تَدخُلُ بشفاعتها شیعتی الجنّةَ بأجْمَعِهِم.

Bihar Al-Anwar, jilid 60, halaman 228.

[4] ".و سَتُدْفَنُ فیها امرأةٌ من اولادی تُسمّی فاطمةُ فَمَنْ زارَها وَجَبَتْ له الجَّنةُ

Ibid, halaman 216.

[5] ".علیک بکریمة اهل البیت

[6] Karime-ye Ahle Beit a.s., Ali Akbar Mehdi Pour, halaman 43 – 45.

[7] Divan-e Asy’ar-e Emam Khomeini (quddisa sirruh).

[8] ".فداها ابوها

[9] Kasyf Al-Laali, Shaleh bin ‘Arandas Hilli, sesuai dengan nukilan kitab Karime-ye Ahle Beit a.s., halaman 63-64.

[10] Peristiwa ini mengingatkan kedudukan Nabi Yahya dan Isa saat masih kecil, Fatimah Zahra a.s. yang berbicara dalam rahim Khadijah, Imam Ali a.s. yang bersaksi akan tauhid dan risalah Nabi saat dalam buaian. Hal-hal seperti ini bukan sebagai sesuatu yang bersifat iktisabi (diperoleh melalui usaha), namun berhubungan dengan kehendak Allah yang menciptakan makhluk-makhluk pilihan di alam wujud ini.

[11] ‘Awalim Al-‘Ulum, jilid 11, halaman 595, dengan menukil dari kitab Asrar-e Ghadir, Muhammad Baqir Ansari.

[12] Lihat: Qiyam-e Sadat-e Alavi, halaman 166.

[13] Al-Hayah As-Siyasiyyah Li Al-Imam Ar-Ridha a.s., Ja’far Murtadha ‘Amuli.

[14] Peristiwa ini mengingatkan musibah yang menimpa Zainab Kubra a.s. di Karbala.

[15] Di Qom terdapat makam 444 anak keturunan imam, bahkan di sisi makam beliau dikebumikan putri-putri Imam Jawad a.s. Bila keutamaan Qom menjadi faktor pengutamaan, tentu berkenaan dengan mereka akan diberikan penjelasan.