BERAKHLAK DENGAN AKHLAK ALLAH SWT


Akhlak berasal dari kata "khulq” yang artinya perangai, kebiasaan, tabiat, budi pekerti dan juga agama. Akhlak ini memiliki dua bentuk, zahir dan batin. Bentuk zahir merupakan perangai dan prilaku yang nampak secara lahiriyah. Sedangkan bentuk batin adalah sifat yang ada pada diri manusia.[1] Jadi bisa disimpulkan bahwa akhlak adalah sifat dan prilaku seseorang yang mencerminkan hakikat dirinya.

Hakikat diri manusia ditentukan oleh amal ikhtiarnya. Di saat manusia dilahirkan di dunia, ia bukanlah manusia sempurna atau manusia durjana. Melainkan kertas putih yang memiliki potensi untuk menjadi manusia agung atau manusia tercela. Manusia sendirilah yang melukis wajah batinnya menjadi pribadi yang baik atau buruk. Manusia dalam sepanjang perjalanan hidupnya di dunia, detik demi detik, disadari atau tidak, sedang membentuk wajah aslinya. Yang mana wajah ini akan jelas dan terang setelah ruh terpisah dari badan. Wajah yang indah dan menyenangkan akan menjadi nikmat bagi dirinya dan wajah yang buruk dan menjijikkan akan menyiksa dirinya sendiri. Karena itu setiap niat dan amal akan membentuk wajah batin manusia. Dan selama berada di dunia, wajah manusia akan selalu berubah-ubah sesuai dengan niat dan amalnya.

Untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia, Allah swt membantu dan membimbing manusia dengan mengutus para Nabi dan Rasul – Nya sebagai teladan. Karena itu Nabi saw bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ‏ لِأُتَمِّمَ‏ مَكَارِمَ‏ الْأَخْلَاق‏[2]

"Sesungguhnya aku diutus demi untuk menyempurnakan akhlak”.

Selain para utusan Allah swt yang merupakan nabi pembawa wahyu. Allah swt juga membekali manusia dengan akal yang mana potensi akal ini tidak ada pada makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Dengan akal ini manusia mampu mencerna petunjuk-petunjuk Allah swt dan dengan itu akan menghasilkan keyakinan sebagai dasar setiap perbuatannya. Akan tetapi tidak semua orang bisa tunduk pada keyakinan akalnya. Karena selain dari pada akal, manusia juga memiliki hawa nafsu yang cenderung menarik manusia pada sifat dan perbuatan yang buruk. Karena itu kekuatan ikhtiar manusia akan menentukan apakah ia akan mengikuti perintah akal atau hawa nafsunya.

Rasulallah swt dalam membimbing manusia menuju kesempurnaan akhlak, memerintahkan kita agar berakhlak sebagaimana akhlak Allah swt.

تَخَلَّقُوا بِأَخْلَاقِ‏ اللَّهِ[3]

"Berakhlaklah dengan akhlak Allah swt”.

Apakah yang dimaksud dengan berakhlak dengan akhlak Allah swt?

Kita menyakini bahwa Allah swt adalah Dzat yang maha sempurna. Artinya tidak ada sifat dan perbuatan tercela pada Diri-Nya. Semuanya indah dan penuh hikmah. Kita bisa melihat keindahan sifat dan perbuatan-Nya melalui "Asmaul Husna”; nama-nama yang indah. Di dalamnya ada ar-Rahman; Maha Pengasih, ar-Rahim; Maha Penyayang, al-Afwu; Maha Memaafkan dan lain sebagainya.

Berakhlak dengan akhlak Allah swt adalah berusaha untuk memiliki sifat-sifat kesempurnan-Nya dan berperilaku seperti perilaku-Nya. Artinya segala perbuatan yang kita lakukan sesuai dengan kehendak dan keridhaan-Nya, bukan berdasarkan kehendak dan kepuasan diri kita. Dalam irfan keadaan ini disebut dengan fana dalam perbuatan-Nya, yang mana seorang pesuluk sudah tidak memiliki kehendak dan iradah kecuali kehendak-Nya. Para arif melihat bukan lagi dengan matanya, akan tetapi dengan mata Allah swt. Begitu juga dengan telinga, tangan, dan kakinya.

Mereka ini adalah manifestasi atau cermin dari akhlak dan perbuatan Allah swt. Dalam hadist qudsi Allah swt berfirman:

قالَ اللّهُ عَزَّ وَ جَلَّ مَنْ اَهانَ لِىَ وَلِيّاً فَقَدْ اَرْصَدَ لِمُحارَبَتى وَ ما تَقَرَّبَ اِلَىَّ عَبْدٌ بِشَيْئ اَحَبَّ اِلَىَّ مِمّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَ اِنَّهُ لَيَتَقَرَّبُ اِلَىَّ بِالنّافِلَةِ حَتّى اُحِبُّهُ فَاِذا اَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذى يَسْمَعُ بِهِ وَ بَصَرَهُ الَّذى يُبْصِرُ بِهِ وَلِسانَهُ الَّذى يَنْطِقُ بِهِ وَ يَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِها اِنْ دَعانى اَجَبْتُهُ وَ اِنْ سَأَلَنى اَعْطَيْتُهُ...[4]

"Barangsiapa menghina salah satu dari kekasihku, berarti ia telah mengumumkan peperangan dengan-Ku. Dan tidak ada yang lebih baik untuk mendekatkan seorang hamba kepada-Ku melainkan dengan mengerjakan apa yang aku wajibkan kepadanya. Dan dengan melaksanakan yang sunah ia akan dekat dengan-Ku hingga Aku mencintainya. Dan ketika Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, dan Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat, dan Aku akan menjadi lisannya yang dengannya ia berkata, dan Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia beraktifitas. Jika ia memanggil-Ku maka Aku akan memenuhinya dan jika ia meminta sesuatu kepada-Ku maka Aku akan memberinya”.

Untuk sampai pada makam dan kedudukan ini kita perlu meningkatkan ketaatan khususnya dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Setelah kita dapat melaksanakan perintah yang wajib dan menjauhi larangan-larangan yang diharamkannya dengan baik, kita perlu meningkatkan ketaatan dalam menjalankan perkara yang disunahkan dan meninggalkan perkara yang makruh. Tentu saja keduanya tidak mudah, hanya dengan inayah dan pertolongan Allah swt serta auliya-Nya hal itu bisa terlaksana. Karena itu bertawasul dan meneladani sirah para auliya Allah swt khususnya para nabi dan Ahlulbaitnya merupakan sesuatu yang sangat ditekankan. InsyaAllah dengan berwilayah dan mencontoh sirah mereka jalan kita dimudahkan untuk sampai derajat makarimul akhlak.



[1] Ali Akbar Qurashi, Qomus Quran, jild 2, hal 293.

[2] Abdul Qosim Payandeh, Nahjul Fashahah, hal 345.

[3] Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi Majlisi, Bihar al Anwar, Jild 58, Hal 129; Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Usul al Kafi, Jild 1, Hal 227

[4] Ibid, Jild 2, Hal 352.