Umi Syauqi
Peran Ibu dalam Mendidik Anak di Zaman Jahiliyah Modern

Ketika detik-detik sang buah hati lahir ke dunia, rasa sakit melahirkan pun hilang, kesenangan luar biasa dirasakan oleh sang ibu melihat sang bayi lahir dengan selamat. Manusia lahir dalam keadaan suci dan pendidiklah yang akan mewarnai kehidupan seorang anak. Anak merupakan titipan Tuhan kepada manusia yang suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawabannya.

Berlajunya perkembangan pesat di berbagai bidang ilmu, teknologi, informasi, pertanian, pendidikan serta berbagai kebijakan di berbagai lini pemerintah, budaya dan politik membuat problematika hidup waktu dari waktu pun akan semakin terasa. Pendidikan pun mengalami perubahan yang sangat drastis, baik dari segi positif atau negatif. Pendidikan merupakan masalah yang krusial karena tidak dilihat dari segi yang nampak walaupun sebagian pemikir menyatakan output sebagai standar nilai dalam kesuksesan proses pendidikan.

Berdasarkan riwayat, ibu adalah sekolah pertama. Sang ibu mempunyai peranan penting dalam mendidik anaknya, karena anak lahir seperti kertas putih dan orang tualah yang akan mencoret-coret kertas tersebut. Oleh karena itu ada pepatah bilang buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, artinya seorang anak merupakan cerminan orang tuanya.

Ada yang mengatakan saat ini adalah zaman jahiliyah kedua. Salah satu pemikir arab menulis buku tentang jahiliyah kedua, artinya saat ini tidak jauh beda seperti zaman jahiliyah (buta akan agama) di saat Rasulullah saw. di utus oleh Tuhan untuk menghidayahi umat manusia. Oleh karena itu, seorang ibu ditekankan untuk lebih waspada dan antusias dalam proses mendidik anak supaya tidak terjerumus ke dalam didikan yang salah. Kita lihat saat ini Indonesia menjadi konsumen terbesar di dunia baik dari segi pemikiran di ranah politik, sosial, budaya, pendidikan, pornografi dan sebagainya. Ini menjadi tantangan berat bagi seorang pendidik terutama kaum ibu. Analogi persamaan jahiliyah pertama dan kedua sebagai berikut :

1. Pada masa jahiliyah pertama terjadi kejadian sangat tragis dan mengenaskan yaitu penguburan anak perempuan hidup-hidup dan bahagia akan kelahiran anak laki-laki. Pada saat ini terjadi pengguguran anak tanpa rekomendasi medis atau aborsi serta lahirnya ketidakadilan gender karena salah faham akan arti dari ajaran Islam.

2. Pada masa jahiliyah terjadinya pernikahan dengan mahram. Setelah Islam lahir, sedikit demi sedikit syariat pernikahan ditetapkan dalam masyarakat. Saat ini pun perbuatan tersebut merajalela hanya karena memuaskan hawa nafsu belaka.

3. Seks bebas merajalela atau model perkawinan jahiliyah yang tidak menjaga kehormatan, hanya dengan modal suka sama suka membolehkan untuk melakukan hubungan suami istri. Saat ini pun seks bebas merajalela bahkan menjadi komoditi ekspor impor serta mengikuti pola pikir dan gaya hidup orang barat yang tidak kenal dengan agama.

4. Pada masa jahiliyah sudah ada kebudayaan dan infrastruktur yang berkembang pesat seperti di kota Yaman yang mempunyai kebudayaan dan arsitek ulung seperti tapak tilas kerajaan Saba dan Nabi Sulaiman as. Akan tetapi dalam masalah spiritual sangatlah minim. Kini dunia berkembang pesat di berbagai bidang: intelektual, komunikasi, kebudayaan, politik, pendidikan dan pembangunan. Namun masih menyembah patung hawa nafsunya.

5. Pada zaman jahiliyah memakai sistem kelompok atau kekeluargaan dan fanatis akan kelompoknya. Begitu pun saat ini karena kebodohan dan kefanatikannya membuat orang menjadi buta, merasa apa yang ia yakini benar dan keyakinan orang lain salah.

Melihat fenomena-fenomena di atas yang terjadi dalam sosial sebagai tantangan bagi pendidik khususnya kaum ibu. Bagaimana seoarang ibu mendidik anaknya saat ini dan berpengaruh kepada sikap anak didiknya di kemudian hari. Oleh karena, itu peran seorang pendidik sangat urgen (penting) sekali. Baik itu berbentuk sekolah, pesantren atau homeschooling. Tentunya proses pendidikan berdasarkan riwayat dimulai dari diri orang tua, ketika memilih istri atau suami, proses pembuahan, masa kehamilan dan setelahnya.

Menurut Psikologi Barat, pendidikan lebih ditekankan pada masa emas anak (golden age). Pada masa ini anak akan menerima asupan luar biasa, proses kerjanya lebih canggih dari sistem komputer. Maka dalam Islam menyebut ibu sebagai madrasah ula, yaitu sekolah pertama bagi anaknya. Ibu mempunyai peranan penting dalam membentuk kepribadian dan intelektual anak, karena anak pada masa itu seperti kertas putih yang akan menerima coretan si pendidik dan mempunyai dampak pada masa yang akan datang. Oleh karena itu asas mendidik anak ada pada masa golden age.

Ada tiga kondisi dimana seorang pendidik khususnya seorang ibu harus mengetahui kondisi anak didiknya. Pertama dimana ia berada, kedua dengan siapa ia berada dan ketiga apa yang sedang ia lakukan. Tiga pola tersebut bisa juga diterapkan setelah masa golden age, tapi ketika di pesantren atau di perguruan tinggi seorang pendidik harus mengetahui tiga kondisi tersebut dan tentunya dengan pengaturan dan pengontrolan yang tidak mendikte.

Pendidikan bisa diterapkan dalam berbagai ranah misalnya akhlak, sosial, kejiwaan (psikologi), kebudayaan dan politik. Namun hal yang penting dan menjadi asas pendidikan anak pada usia golden age adalah sebagai berikut:

Pertama, menanamkan keyakinan akan Tuhan, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyanyang, dan hanya kepada-Nya kita bisa minta pertolongan segala apapun. Dialah Yang Kuasa dan Esa, manusia adalah makhluknya, karena penanaman rasa tersebut anak akan yakin bahwa ia akan sesalu dikasihani Tuhannya dan memberi kasih sayang kepada sesamanya.

Kedua, mengajak anak untuk menggunakan akalnya, belajar berpikir misalnya mengajak anak ke majlis taklim, ke masjid. Pola tersebut membuat anak didik mempunyai prinsip, tidak mudah mengikuti hawa nafsunya, tidak mengikuti kemauan orang lain, berpikir sebelum berbicara atau bertindak dan mengetahui agama dengan benar.

Ketiga, menanamkan kemulian pada diri anak, misalnya menjaga kehormtannya, tidak memojokan, mempermalukan dan memarahinya di depan umum serta mengungkit kesalahannya, memberikan kasih sayang cukup, baik dengan perkataan atau tindakan, memujinya dengan hadiah, mensuportnya, dengan pola tersebut supaya anak didik tidak cepat mnyerah dan dirinya hina.

Keempat, menjadi contoh bagi anaknya dan kelima berdoa dan bertawasul kepada para Wali Allah Swt supaya dikaruniakan anak yang shaleh dan shaleha.

Referensi:

1. Amini, Ibrahim. Agar Tidak Salah Mendidik Anak, Al Huda, Jakarta, 2016.

2. haji Zadeh, Mas’ud, Metode Praktif Membimbing Anak Mengenal Tuhan, Al Husaini, Jakarta, 2006.

3. Aqlaniyate Dini Jahiliyate Modern, Jasynwareh Bainul Milal Quran wa Hadits Al Mustafa, Qom, 1394 Hs.