Arbain Imam Husain, Media Abadi Syiah di Sepanjang Sejarah
Sayid Rasul Alawi

Tidak diragukan lagi bahwa media dapat digunakan sebagai alat yang cocok untuk mendistorsi fakta-fakta dan meneror karakter-karakter, serta memutarbalikkan kebaikan menjadi keburukan dan keburukan dijelma menjadi kebaikan. Selain itu media juga dapat dijadikan sebuah sarana untuk menjelaskan kebenaran-kebenaran dan petunjuk manusia untuk menggapai nilai-nilai spiritual Ilahi.

Peristiwa tahun 61 Hijriah dan kesyahidan cucu terkecil Rasulullah Saw dan para sahabatnya di Karbala, dengan semua kriteria yang ada, merupakan adegan yang sangat baik dan tepat untuk menilai peran ganda media.

Media-media Bani Umaiyah, dalam peristiwa sejarah ini begitu baik melakukan pengkaburan fakta. Sehingga tragedi pembunuhan cucunda Nabi Islam Saw, Imam Husain bin Ali As, yang terjadi setelah 73 tahun dari penyampaian misi kenabian kakeknya, digambarkan sebagai sesuatu yang biasa di sisi kaum muslimin. Bahkan mereka meyakininya sebagai langkah dalam meraih kebenaran; tidak berhenti sampai di situ, mereka pun menjadikan Asyura sebagai hari yang memiliki berkah dan menganggapnya sebagai hari-hari besar Allah, dimana berpuasa di hari yang naas itu merupakan hal yang disunnahkan: یوم تبرکت به بنو امیه (hari yang mana Bani Umayah mengambil berkah di dalamnya).

Kebengisan penguasa Bani Umaiyah terhadap masyarakat, mendorong Sayidus Syuhada dan orang-orang yang tersisa pada peristiwa Asyura seperti Imam Sajjad As dan Sayidah Zainab Kubra Sa, untuk merancang cara-cara efektif guna melakukan gerakan pencerahan terhadap peristiwa Asyura dan menyampaikan hikmah perjalanan serta pesan kebangkitan Imam Husain bin Ali As. Gerakan pencerahan ini dilakukan melalui sebuah media yang bernama takziah atau duka cita.

Mungkin di sepanjang sejarah tidak ditemukan satu media pun yang mampu memainkan peranan dasar sebuah media seperti takziah dan duka cita yang berhasil menjaga dan menghidupkan sebuah peristiwa sejarah. Bahkan melalu media takziah dan berduka ini, pesan-pesan mulia dari gerakan Imam Husain As akan terus tersampaikan dan berpindah pada generasi-generasi mendatang. Usaha-usaha yang dilakukan musuh Islam dalam membenamkan pesan-pesan ini pun menjadi tak berarti.

Menurut sumber sejarah, diyakini bahwa Abdullah bin Hur al-Ju’fi adalah orang pertama yang menziarahi pusara Imam Husain As, yang mana setelah kesyahidan Imam Husain dia keluar dari rumahnya di Istana Bani Muqatil lalu pergi ke Karbala dan di sana ia menangis dan melantunkan bait-bait panjang meratapi Imam Husain As.[i]

Diduga keras, ini adalah perjalanan pertama takziah dan duka cita ratapan Imam Husain As setelah tindakan-tindakan, ceramah dan pencerahan Sayidah Zainab dan Imam Sajjad As dan rombongan tawanan Karbala.

Empat puluh hari setelah kesyahidan Imam Husain bin Ali As, Jabir bin Abdillah Al-Anshari bersama dengan Atiyah Aufi pergi berjalan kaki ke Karbala dan berziarah ke pusara Imam. Pada saat bersamaan, rombongan tawanan Karbala yang dalam perjalanan pulang dari Syam menuju ke Madinah, sedang singgah di pusara Imam Husain As. Pertemuan dua kelompok ini menyebabkan terbentuknya sebuah acara duka dan takziah serta ratapan untuk Imam yang syahid tersebut. Dan ini adalah acara duka pertama yang didirikan untuk penghulu para syuhada yang dibentuk di sisi pusara Imam dengan dihadiri oleh para sahabat dan para keluarga beliau As. Acara duka ini menghidupkan kembali ingatan-ingatan dan kenangan-kenangan yang kemudian diikuti dengan tujuan dan falsafah kebangkitan dari kesyahidan Imam Husain As. Ini merupakan sebuah jelmaan indah dari media duka di hari Arbain.

Harus diketahui bahwa periode-preiode kekuasaan pemerintah Āl Buyah (322-447 H) adalah titik keberangkatan dan manifestasi dari fenomena ini. Kecondongan yang tinggi keluarga buyah terhadap mazhab Syiah, telah menyebabkan terbentuknya kelompok-kelompok Syiah dan penerapan acara agamis dengan bentuk dan nama Syiah. Sesuai dengan perintah yang jelas dari Muiz al-Daulah, pada Asyura tahun 352 H. untuk pertama kalinya diadakan sebuah pertemuan, penampakan kesedihan, memukul-mukul kepala, merintih dan menyesalkan keadaan, melarang membunuh kambing, tidak minum air, mendirikan tenda-tenda, menghentikan transaksi dan jual beli, menutup pasar-pasar dan hal-hal yang serupa dengannya, hal ini dilakukan untuk mengadakan acara peringatan Asyura.

Sejak tahun tersebut sampai akhir kepemerintahan Āl Buyah, duka cita, takziah dan Arbain telah memainkan peranannya sebagai sebuah media resmi dan menjadi bagian dari kebudayaan, tradisi dan acara sosial di tengah-tengah masyarakat. Dan acara tersebut bertahun-tahun telah banyak didirikan dan menjadi hal yang sangat penting sehingga ketika acara peringatan ini berbenturan atau bertepatan dengan hari-hari besar Iran seperti Hari Raya Nouruz atau pesta Mehregan, bagi penduduk Iran, pelaksanaan acara hari-hari besar tersebut akan ditunda setelah acara duka Imam Husain As.

Simbol-simbol Media Arbain

Acara berkabung penghulu para syahid, Husain bin Ali As di hari Arbain di sepanjang sejarah, telah diselenggarakan dalam bentuk yang beragam dan memiliki simbol-simbol yang berbeda. Diantaranya sebagai berikut:

1- Ziarah secara berkelompok dengan berjalan kaki;

2- Berziarah;

3- Cerita suci dan berpuisi;

4- Pembacaan kronologi pembantaian

5- Berduka cita;

6- Memasang bendera di atas kayu dan mengibarkan serta membawanya;

7- Memakai pakaian hitam dan memasang kain hitam di rumah-rumah para pemimpin dan tembok-tembok;

8- Menepuk-nepuk dada;

9- Menangis;

10- Tidak mendirikan pesta-pesta;

11- Memberikan makan dan nazar atau bernazar yaitu janji yang telah ia buat untuk hal itu;

12- Orang-orang yang berkabung mengadakan gerak jalan di gang-gang dan jalan-jalan;

13- Memberikan Air minum;

14- Berkurban;

Falsafah menghidupkan Media Arbain

Falsafah duka dan takziah untuk Sayidus Syuhada dan menghidupkan Arbain Husaini dapat dibahas dan dikaji dari berbagai sudut dan dimensi; diantaranya sebagai berikut:

1- Menjaga dan melestarikan ajaran-ajaran dan pengetahuan-pengetahuan agama;

2- Memperbaiki dan memurnikan pikiran agama;

3- Didikan kemanusiaan;

4- Menghidupkan nama dan kebangkitan Sayidus Syuhada Husain As;

5- Penyebaran budaya dan pengetahuan ma’rifat;

6- Melanjutkan gerakan Husaini dalam memerangi tirani;

7- Mempertontonkan kekuatan Syiah;

Pengaruh dan Pesan Gerakan Arbain

Banyak pengaruh dan konsekuensi sosial, politik, pendidikan dan kebudayaan dari gerakan Arbain yang dikaitkan dengan keabadian Syiah di sepanjang sejarah, yang penjelasannya tidak dapat diuraikan dalam tulisan singkat ini. Diantara pengaruh dan pesan tersebut adalah:

1- Memperkuat semangat revolusioner, berkorban, dan mencari kebenaran;

2- Memelihara semangat kaum Syiah;

3- Ikatan emosional antara umat dan tauladan yang dikuti;

4- Menghidupkan ajaran-ajaran politik agama;

5- Mengorganisir kaum Syiah;

6- Membuka dan menyebarkan tingkat pengetahuan-pengetahuan masyarakat;

7- Menyingkap keutamaan-keutamaan moral dan penyempurnaan jiwa;

8- Menjaga ketenangan dan menghilangkan kecemasan-kecemasan batin;

9- Menciptakan keselarasan hati, kesamaan pandangan dan kerjasama di antara orang-orang yang berkabung untuk menepis segala kesulitan;

10- Mempertontonkan kekuatan dan manuver kehadiran kaum Syiah;[ii]



Catatan kaki:

[i] - Al-Kamil fi Tārikh, jld.4, hlm.237; Al-Imāmah wa al-Siyāsah, jld.2, hlm. 130.

[ii] - Akhbār al-Thiwāl, hlm,17.

Daftar Pustaka:

· Bunyādhā wa Asibhāe Azādari Imām Husain As.

· Trājedi Karbalā(Telaah sosiologi wacana Syiah).

· Jāmeeh Shenāsi Tahrif Āsyurā

· Sughnāme imām Husain As wa yārānasy.

· Qiyāme Muhtār Tsaqafi.

· Kalimāt aI-Imām al-Husain As.

· Maqālāt Tārikhi (15 Bagian).