Haidar Yusuf
Syariat dan Pengertiannya
Syariat memiliki dua makna umum dan khusus.

Dalam makna umumnya, syariat sama dengan agama dan terkadang menggantikan posisi agama, misalnya, dikatakan syariat Islam maka yang dimaksud adalah agama Islam.

Syariat dalam makna umumnya juga memiliki arti beriman kepada hal-hal pokok yang gaib dari ketulusan hati dan kebersihan niat dimana para nabi Allah menyeru seluruh manusia kepada hal-hal tersebut dan tidak ada perselisihan dalam hal ini. Oleh karena itu, dalam makna ini pengertiannya sama dengan agama.

Dalam makna khususnya syariat memiliki arti hukum-hukum dan perintah-perintah serta ibadah-ibadah dan moralitas yang dibawa oleh para nabi. Syariat dalam makna yang khusus ini berbeda dengan pengertian agama.

Syariat setiap nabi sesuai dengan tuntutan zaman, tempat, umat dan kaumnya dimana setiap syariat yang dibawa oleh para nabi memiliki perbedaan satu sama lainnya.

Di sepanjang sejarah agama, telah turun berbagai syariat dari sisi Allah Swt dan sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Quran dan hadis-hadis Islam, syariat ini ada lima yaitu syariat yang dibawa oleh Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Nabi Muhammad Saw. Allah Swt berfirman:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ ما وَصَّى بِهِ نُوحاً وَ الَّذي أَوْحَيْنا إِلَيْكَ وَ ما وَصَّيْنا بِهِ إِبْراهيمَ وَ مُوسى‏ وَ عيسى‏ أَنْ أَقيمُوا الدِّينَ وَ لا تَتَفَرَّقُوا فيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكينَ ما تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبي‏ إِلَيْهِ مَنْ يَشاءُ وَ يَهْدي إِلَيْهِ مَنْ يُنيبُ.[1]

Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)- Nya orang yang kembali) kepada-Nya.

كانَ النَّاسُ أُمَّةً واحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرينَ وَ مُنْذِرينَ وَ أَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فيمَا اخْتَلَفُوا فيهِ[2]

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.

Atas dasar ini, seluruh manusia sampai sebelum datangnya syariat baru dan atau setelah datangnya dan sebelum mengetahui akan syariat tersebut, mereka beramal dengan syariat Ilahi sebelumnya, itu adalah shirathal mustaqim mereka berjalan dalam kebenaran dan mereka adalah golongan yang berbahagia dan selamat. Namun setelah datangnya syariat baru karena syariat yang lama dinasakh, maka jalan keselamatan hanya ada dan terbatas pada syariat yang baru dan beramal sesuai dengan syariat yang lama dengan mengetahui akan adanya syariat yang baru amal tersebut tidak dibenarkan dan tidak diterima.

Al-Quran al- Karim mengenai hal ini bahwa syariat yang benar, tidak akan turun kecuali dari sisi Allah Swt dan syariat kaum musrikin, adalah syariat yang tidak diizinkan dan tidak dikehendaki oleh Allah Swt. Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ ما لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa seluruh syariat Ilahi berada di atas sirathal mustaqim yang mengesakan Tuhan, namun salah satu syaratnya adalah beriman kepada kenabian Nabi Muhammad Saw, iman kepada kenabian para nabi yang datang sebelumnya, bahkan kaum musyrikin dan ahli kitab sekalipun jika mereka beriman kepada kenabian para nabi, maka mereka akan terhidayahi. Allah Swt berfirman:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَ ما أُنْزِلَ إِلَيْنا وَ ما أُنْزِلَ إِلى‏ إِبْراهيمَ وَ إِسْماعيلَ وَ إِسْحاقَ وَ يَعْقُوبَ وَ الْأَسْباطِ وَ ما أُوتِيَ مُوسى‏ وَ عيسى‏ وَ ما أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَ نَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ * فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ ما آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَ إِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّما هُمْ في‏ شِقاقٍ فَسَيَكْفيكَهُمُ اللَّهُ وَ هُوَ السَّميعُ الْعَليمُ.

Katakanlah (hai orang-orang mukmin):" Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu( . Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

***

Sumber: Tafsir al-Mizan, di bawah ayat 213, Surah al-Baqarah.



[1] QS. Al-Syura, ayat 13

[2] QS. Al-Baqarah, ayat 213