Disadur dari Buku Panduan Akidah, karya Dr. Ali Syirvani
Filosofi Pengutusan Nabi dalam Perspektif Quran

Peranan sejarah para nabi dan pengaruh positif dan revolusioner yang ditimbulkan mereka dalam peradaban dan kebudayaan manusia, bukanlah hal yang terselubung. Para nabi adalah reformis terbesar dan pemimpin paling berwibawa yang selalu berusaha semaksimal mungkin dalam menuntun manusia menggapai kesempurnaannya. Dalam kamus mereka tidak akan didapati kata takut dan menyerah dalam menyampaikan misi yang diembannya. Segala kesulitan dan rintangan mereka terima, dan jika perlu, mereka tebus dengan nyawa. Siksaan dan aniaya kaumnya mereka teguk laksana air segar. Dengan berbagai aral melintang tersebut mereka telah mampu menciptakan sebuah perombakan spektakuler dalam tatanan masyarakat sosial.

Untuk mengetahui lebih lanjut hal itu, cukuplah kita buka lembaran sejarah kaum Arab pada khususnya dan dunia pada umumnya pada awal kemunculan Islam. Perbandingan yang amat mencolok dan kolosal antara keberingasan kaum Arab sebelum masa diutusnya Nabi dan peradaban yang dibawa oleh Islam, kajian ini akan menyingkap berbagai realita yang tak terbantahkan. Namun sayang, kita tidak dapat mengakaji kajian historis semacam ini, karena hal ini keluar dari tujuan utama penulisan buku ini. Dan lagi, kajian semacam ini sudah terbahas secara panjang lebar dalam sejarah Islam.

Di sini kita hanya akan membawakan pengaruh dan dampak paling signifikan dari diutusnya para nabi dari sudut pandang Alquran:

Pelajaran

Tugas pertama yang diemban seorang nabi adalah memberikan pelajaran pada manusia tentang hakikat yang tidak mereka ketahui atau yang tidak mampu mereka pahami. Dalam pembahasan terdahulu telah kami sebutkan secara terperinci bahwa faktor utama yang melandasi pentingnya pengutusan para nabi adalah kebodohan dan ketidaktahuan manusia akan jalan kebahagiaan dan kesempurnaan yang menjadi tujuan hidupnya. Para nabi datang untuk melenyapkan kebodohannya dan memberikan pengajaran kepadanya.

"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Alquran) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Baqarah : 129)

"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni’mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, mensucikanmu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. (Al Baqarah : 151).

Ajaran para nabi bisa kita golongkan dalam dua kategori: pertama, hakikat dan kenyataan yang tak mungkin dipahami oleh manusia, baik melalui usaha indra atau rasio, seperti hakikat hari kebangkitan. Kedua, hakikat yang dapat dipahami oleh akal manusia. Namun, untuk memahaminya ia harus melakukan eksperimen dan upaya yang berkesinambungan bertahun-tahun, bahkan bisa jadi berabad-abad lamanya.

Para nabi as dalam hal ini datang untuk mempersingkat dan mempermudah pengetahuan dan ilmu yang semacam ini.

Penyucian

Para nabi adalah pribadi-pribadi suci nan agung yang memiliki segala keutamaan, dan senantiasa terpelihara dari segala sifat-sifat tercela dan buruk. Mereka yang merupakan perwujudan keadilan, cinta, kebaikan, kejujuran, kesucian, kebesaran jiwa, dan keselamatan, mengajak manusia pula untuk menyandang sifat-sifat terpuji dan mencampakkan sifat-sifat tercela. Menurut ungkapan Alquran, mereka membersihkan dan menyucikan manusia.

Urgensitas tazkiyah dan tarbiyah manusia dapat kita pahami dari peletakan dan penyebutannya dalam Alquran yang selalu didahulukan dari kata ta’lîm. Selain yang termaktub dalam ayat ke 129 surah Al-Baqarah, itupun berasal dari sabda nabi Ibrahim dan Isma’il dalam realisasi dan praktek. Artinya, ketika dalam tahapan praktis pengajaran dan didikan selalu diutamakan, awal pemberian teori kemudian disebutlah tazkiyah.

Peringatan

Telah kami sebutkan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwa manusia memiliki fitrah, yang sanggup membantunya menggapai kesempurnaan dan kebahagiaannya, seperti keyakinan akan Tuhan, kecenderungan untuk menyembah-Nya, dan cinta kebaikan dan keutamaan. Akan tetapi, kerap kali fitrah tadi menjadi pudar dan tercemari akibat kelalaian, kelupaan, dan buaian gemerlapnya materi. Oleh karena itu, para nabi satu persatu datang berusaha memberikan peringatan dan mengingatkan pengetahuan-pengetahuan yang telah terpendam dan terlupakan, serta menghidupkan dan menyadarkan kembali kecenderungan yang sudah mati. Oleh karena itu, Allah memperkenalkan para nabi sebagai sosok muzdakkir, pemberi peringatan.

"Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”. (Al-Ghâsiyah : 21)

"Tidaklah demikian, sesungguhnya ia (Alquran) merupakan sebuah pengingat”. (Al-A’raf : 157)

Kebebasan dari Segala Macam Belenggu dan Perbudakan

Para nabi memiliki peran yang sangat signifikan dalam upaya membebaskan manusia dari kekangan dan segala macam belenggu. Mereka telah menyelamatkan manusia dari berbagai praktek perbudakan yang dilakukan oleh segelintir orang dan penguasa lalim yang diktator. Lebih dari itu, mereka juga melenyapkan segala belenggu dari dalam jiwa manusia yang berupa hawa nafsu dan kecenderungan yang berlebihan terhadap materi.

"… Dan ia (Nabi) membuang belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (Al-A’râf : 157)

Para nabi selalu menyeru manusia untuk menyembah Tuhan dan hanya menjadi hamba-Nya, sehingga di saat mereka tidak menjadi hamba Tuhan, maka mereka sama sekali tidak akan dapat mencicipi manisnya rasa kebebasan. Jika manusia tidak tunduk akan perintah Tuhan, niscaya ia akan menjadi budak hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan hewani untuk selamanya. Dengan demikian, ia akan terombang-ambing. Namun, sekali saja ia kunjungi istana ke-Tuhanan, maka akan terlepaslah segala belenggu yang menghimpitnya.

Penegakan Keadilan

Salah satu dari tujuan pokok di utusnya para nabi adalah untuk menegakkan keadilan dalam masyarakat sosial. Alquran secara gamblang menegaskan hal ini: ”Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan”. (Al-Hadîd : 25)

Suri Tauladan

Para psikolog kontemporer sepakat bahwa suri tauladan dan contoh kongkret memiliki peran menentukan dalam menciptakan dan mengkader masyarakat. Suri tauladan termasuk faktor terpenting dalam mendidik dan menyiapkan proses pencapaian kesempurnaan manusia. Salah satu poin positif dari eksistensi para nabi di tengah-tengah masyarakat adalah peran mereka sebagai suri tauladan dan contoh dalam kehidupan sosial.

"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan ia banyak mengingat Allah. (Al-Ahzâb : 21)