Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As

Dia adalah Imam pertama bagi mukminin dan pemimpin muslimin serta khalifah Allah Swt sepeninggal Nabi Muhammad Saw. Dia adalah saudara dan keponakan Nabi sekaligus wazir dalam urusan-urusannya, suami anak perempuan Nabi, Fatimah al-Batul penghulu wanita dunia. Dia adalah Amiril mukminin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf.

Panggilannya adalah Abu al-Hasan, lahir pada hari Jum`at 13 Rajab tahun ke 30 dari Tahun Gajah di dalam Kabah di Mekah. Yang mana sebelumnya ataupun setelahnya tak ada seorangpun yang dilahirkan di dalam Rumah Allah Swt, kedudukan ini diberikan oleh Allah Swt kepadanya karena keagungan serta kedudukannya yang tinggi.

Ibunya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf, yang bagi Rasulullah Saw seperti Ibunya sendiri. Rasulullah Saw tumbuh dalam asuhannya dan sangat berterimakasih atas kebaikannya. Dia termasuk dari orang-orang yang pertama yang beriman kepada Rasululllah Saw dan ikut melakukan hijrah bersama Rasulullah dan para muhajirin, dan ketika ibunya meninggal, Rasulullah Saw sendiri yang mengafaninya dengan baju miliknya agar binatang-binatang tanah menjauh dari jasadnya, Rasulullah juga tidur diantara kuburnya agar dia terhindar dari himpitan kubur. Rasul juga menalkinkannya atas wilayah anaknya Amirul mukminin padanya agar saat ditanya dia mampu menjawab. Kekhususan ini diberikan kepadanya karena kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Swt dan Rasul-Nya. Dan peristiwa ini sudah masyhur di semua kalangan.

Jadi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan saudara-saudaranya merupakan orang-orang yang pertama kali lahir dari bapak dan ibu keturunan Bani Hasyim, dan ini merupakan kebanggaan yang didapatkan Imam Ali As selain itu, ia tumbuh berkembang dalam asuhan Rasulullah Saw serta pelajaran adab yang diperoleh darinya.

Imam Ali merupakan orang yang pertama kali beriman kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw dari kalangan Ahlilbait dan sahabat, yang merupakan laki-laki pertama yang menyahut seruan Rasulullah Saw, dan bertekad membela agama serta berjihad melawan orang-orang musyrik, membela iman dan menghancurkan para pembid’ah dan orang-orang dzalim serta menyebarkan ma’arif sunnah dan Al-Qur`an dan menghukumi dengan keadilan serta memerintahkan kepada kebaikan.

Imam bersama Rasulullah Saw selama 23 tahun setelah bi`tsah, dimana selama tiga belas tahun di Mekah sebelum hijrah dan dimasa itulah dia selalu menemani Rasulullah Saw dalam setiap penderitaan serta kesusahan, dan beban yang berat dia usung di bahunya, sedangkan sepuluh tahun sisanya, setelah hijrah ke Madinah dia berperang melawan orang-orang Musyrik dan menjauhkan mereka dari Rasulullah Saw. Selain itu, dia selalu berperang melawan orang-orang kafir serta dengan jiwanya ia mempertahankan agamanya dari kejahatan musuh-musuh, hingga akhirnya Allah Swt memanggil Rasulullah Saw keharibaan-Nya dan memberinya rumah di surga bersama orang-orang mulia. Saat itu Amirul Mukminin berumur tiga puluh tiga tahun.

Pada saat meninggalnya Rasulullah Saw, umat mengalami perselisihan berkenaan dengan keimamahan Amiril Mukminin As. Syiah-syiah Imam yaitu Bani Hasyim, Salman, Ammar, Abu Dzar, Miqdad, Khuzaimah bin Tsabit Dzu Syahadatain, Abu Ayyub al-Anshari, Jabir bin Abdillah al-Anshari, Abu Said Khudri dan selainnya yang termasuk para pembesar dari kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka senantiasa berkata : "Imam Ali As adalah pengganti Rasulullah Saw sekaligus pemuka orang-orang beriman, dikarenakan keunggulan-keunggulannya dari yang lain serta kekhususan-kekhususan yang dimilikinya seperti keagungan, kecerdasan, kharisma serta kecekatan beliau dalam menerima Islam, keunggulan dalam Ilmu berkenaan dengan hukum-hukum syariat dari yang lain, keterdepanannya dalam medan perang, kegemilangannya dalam ketakwaan dan kebaikan, serta kekhususan kedekatannya dengan Rasulullah Saw- dimana tak ada satupun yang setara dengannya dalam hal-hal ini".

Begitu juga karena Nash Allah Swt dalam Al-Quran Al-Karim berkenaan dengan wilayahnya, dimana Allah Swt berfirman :


إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Artinya: Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat dan mereka dalam keadaan rukuk.[1]

Sangat Jelas bahwa saat itu tak seorangpun selain Ali As yang memberikan zakat (sedakah) dalam keadaan rukuk. Dan secara bahasa tidak ada pertentangan sama sekali bahwa kata "wali” memiliki arti "awla” (yang lebih utama) dan orang yang lebih baik.

Sekarang jika Amiril Mukminin As –berdasarkan penilaian Al-Qur’an Karim- berkaitan dengan umat lebih utama dan lebih berhak mengambil keputusan dibandingkan dengan diri mereka sendiri, karena wilayahya yang telah disyaratkan tersebut, maka menjadi jelaslah –kewajiban- taat manusia kepadanya, sebagaimana dari kandungan ayat ini ketaatan terhadap Allah Swt dan Rasulullah Saw dengan argumen yang jelas menjadi sebuah kewajiban.

Selain itu Rasulullah Saw dalam peristiwa "Yaum ad-Dar” ketika Bani Abdul Mutthalib diundang dalam rangka dakwah, beliau berkata: Barang siapa yang mau menolong dan membantuku dalam perkara ini, maka dia akan menjadi saudara, washi, wazir dan pewaris serta penggantiku.

Di saat itulah Amiril Mukminin As berdiri diantara khalayak- dimana saat itu dia yang paling muda- dan berkata: "Ya Rasulallah, aku akan membantumu”.

Rasulullah Saw berkata padanya; "Duduklah, kau adalah saudara, washi, wazir, pewaris serta penggantiku”. Ucapan ini sangat jelas berkenaan dengan kedudukan Imam sebagai pengganti Rasulullah Saw.

Begitu juga Rasulullah Saw di hari Ghadir Khum ketika beliau menyeru umat untuk menyampaikan khotbah, beliau berkata; "Bukankah aku lebih utama dan lebih berhak atas kalian dibanding diri kalian sendiri?”. Semua orang menjawab; "Begitulah ya Rasulallah!”

Kemudian Rasulullah Saw dalam kelanjutan khotbahnya langsung tanpa adanya jeda berkata; "Maka barang siapa yang menjadikanku wali (pemimpin), maka Ali adalah walinya”.

Dan genggamlah kewajiban ketaatan terhadap Ali As –di semua perkara yang diharuskan taat kepada Rasulullah- dan dari Rasulullahlah diperoleh pengakuan dan kewajiban untuk taat kepada Imam Ali As. Tak seorangpun yang memungkiri perintah ini; dan hal ini juga secara jelas melambangkan keimamahan dan kekhalifahan Imam Ali As setelah Rasulullah Saw.

Selain itu saat keberangkatan ke Tabuk, Rasulullah Saw berkata: "Kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Musa di sisi Harun, kecuali tidak ada Nabi setelahku. Rasulullah Saw dengan kandungan hadis ini mengukuhkan kedudukan wazir, kekhususan kasih dan cinta, dan keunggulan atas yang lain serta kedudukan sebagai khalifah atas umat –baik dimasa hidup ataupun setelah wafat beliau- kepada Ali As. Karena Al-Qur’an sendiri telah bersaksi bahwa semua kekhususan-kehususan ini milik Harun berkaitan dengan Musa As. Allah Swt melalui ucapan Musa As berfirman:

وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي * هَارُونَ أَخِي* اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي * وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي * كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًاوَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا * نَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيرًا * قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَى

Artinya: "Dan jadikanlah bagiku seorang wazir dari keluargaku * (yaitu) Harun saudaraku *teguhkanlah dengan dia kekuatanku *dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku * supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau *dan banyak mengingat Engkau *Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami *Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.[2]

Maka jelas bahwa Allah Swt telah mengukuhkan kedudukan Harun As sebagai sekutu bagi perkara kenabian Musa As dan wazirnya dalam melaksanakan Risalah, dan Allah telah mengamankan lini belakang Musa untuk Harun. Nabi Musa As berkenaan dengan perkara kekhalifahannya berkata kepada Harun:

اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ

"Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan, orang-orang yang membuat kerusakan'[3].

Jadi jelas bahwa Kehilafahan Harun As terkukuhkan dengan Nash Al-Qur’an.

Maka ketika Rasulullah Saw berkaitan dengan dirinya telah menisbatkan semua kekhususan yang dimiliki Harun As di sisi Musa As "kecuali kedudukan kenabian” tersebut kepada Ali As, Rasul Saw telah mengukuhkan untuk Imam Ali As Kedudukan wazir Rasul Saw, dukungannya untuk membantu dan menolong Nabi Saw, keunggulan dan kecintaan serta segala kekhususan-kekhususan yang pada hakikatnya sesuai dengan hal tersebut, serta kehalifahan di masa hidup secara terang-terangan dan begitu juga dimasa setelahnya melalui penekanan khusus melalui penggunaan kata "Setelah”.

Dan banyak sekali argumentasi-argumentasi semacam ini yang membuat pembahasan menjadi panjang jika disebutkan seluruhnya, lagi pula kami juga telah membuktikan argumen-argumen itu pada tempatnya secara terperinci dalam buku-buku yang lain. Alhamdulillah.

Maka keimamahan Amirul Mukminin As setelah Rasulullah adalah selama 30 Tahun, dimana selama 24 tahun lebih beberapa bulan, Imam selalu bersabar, bertaqiah, bertoleransi. Imam juga terhalang dari pengambilan keputusan dalam urusan kepemimpinan serta pelaksanaan hukum-hukumnya. Sedangkan 5 tahun lebih beberapa bulan sisanya Imam disibukkan dengan peperangan melawan orang-orang munafik dari golongan Nakitsin, Qasitin dan Mariqin, selain itu fitnah-fitnah menyesatkan juga sangat menyakitinya, sebagaimana Rasulullah selama tiga belas tahun tercegah dari melaksanakan hukum-hukum Allah dimana beliau diintimidasi, dikepung, diburu serta diusir, dan dalam kondisi seperti itu Rasulullah Saw tidak memiliki kapabilitas untuk melawan orang-orang kafir ataupun untuk melindungi orang-orang beriman, kemudian beliau berhijrah dan setelah itupun selama sepuluh tahun hidup dalam peperangan melawan orang-orang musyrik dan pertikaian dengan orang-orang munafik, hingga pada akhirnya Rasulullah dipanggil oleh Allah Swt dan diletakkan di Surga.

Amirul Mukminin As saat sebelum fajar malam Jum`at hari ke-21 bulan Ramadhan tahun ke empat puluh Hijriah meraih kesyahidan karena sebilah pedang. Ibnu Muljam al-Muradi –semoga Allah melaknatnya- membunuh Imam Ali As di masjid Kufah, saat itu adalah malam ke-19 Ramadhan, Imam keluar untuk membangunkan orang-orang guna melaksanakan sholat subuh. Ibnu Muljam untuk melaksanakan serangan ini dari awal malam telah duduk dan saat Amirul Mukminin As masuk masjid dan lewat didekatnya –Ibnu Muljam berpura-pura tidur diantara orang-orang yang sedang tidur- dia menyerang kearah Imam dan memukul ubun-ubun Imam Ali As dengan pedang beracun.

Kemudian Pada hari ke-19, 20 dan malam ke-21 sampai sepertiga awal malam itu, beliau masih bernafas, namun kemudian Imam meraih kesyahidan dan menemui Tuhannya dalam keadaan terdzolimi.

Amirum Mukminin As telah mengetahui sebelum peristiwa itu terjadi dan sebelumnya telah memberi tahu orang-orang. Dan berdasarkan perintah Imam, kedua putranya yaitu َHasan dan Husain As melaksanakan mandat untuk memandikan, mengafaninya. Kemudian jasadnya ditandu ke sekitar Najaf, Kufah dan dikuburkan di sana. Selain itu, berdasarkan wasiat yang diberikan Imam kepada mereka, kuburan Imam Ali As pun disembunyikan, karena Imam mengetahui kebencian pemerintahan Bani Umayyah terhadapnya dan pikiran-pikiran picik mereka serta ketidakseganan mereka untuk berkata dan berbuat hal-hal yang tidak layak.

Tempat dikuburkannya jasad Imam tidak pernah diketahui sampai ketika Ja`far bin Muhammad (Imam Shadiq As) pada zaman pemerintahan Bani Abbas menunjukannya. Dia menemui Abi Ja`far[4] -yang saat itu merasa heran- dan bergegas berziarah ke makam Imam Ali As. Semenjak saat itu orang-orang Syiahpun mengetahui kuburan Imam dan berbondong-bondong menziarahinya.

Imam Ali wafat pada usianya yang ke-63.


Sumber: Al-Irsyad Syaikh Mufid, Sirah Aimmah Athar, Penerbit Sorur, Cet. II, 1390 S, Hal. 23-28

[1] Al-Maidah 55

[2] Thaha 24-36

[3] Al-A`raf 142

[4] Abu Ja'far Mansur, khalifah kedua Bani Abbas