Abu Qurba
FALSAFAH KURBAN (Bagian Pertama)

FALSAFAH KURBAN (Bagian Pertama)Agama Islam Meliputi Tiga Unsur Utama

Ketika Allah Swt hendak mengangkat seorang "Khalifah" di muka bumi ini dari bangsa manusia, seakan-akan para Malaikat tidak setuju dan melakukan protes yang dapat kita pahami dari susunan kalimat atau intonasi dalam pertanyaan mereka[i]. Mengapa demikian? Karena kehendak Ilahi itu dianggap aneh dan tidak logis.

Ketika Allah Swt memerintahkan Nabi Ibrahim As agar mengorbankan putra kesayangannya yang bernama Ismail As dengan cara menyembelihnya, inipun dianggap lebih aneh lagi oleh sebagian manusia. Terlebih lagi perintah itu datangnya hanya lewat mimpi[ii]. Apalah artinya sebuah mimpi! Bahkan sebagian manusia menilai bahwa perintah seperti itu tidak mungkin terjadi, karena hal itu sama saja dengan memerintahkan pada kekerasan (khusyunat) dan kebrutalan (tahawwur).

Jika memang peristiwa itu terjadi, lalu apa bedanya antara menguburkan anak perempuan hidup-hidup, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah dengan upaya menyebelih anak hidup-hidup? Apabila diasumsikan bahwa perintah Allah Swt kepada Nabi Ibrahim As itu benar, apa sebenarnya hikmah dan falsafah dari perintah tersebut?

Agama Islam meliputi dua belahan penting, belahan pertama berupa ushuluddin, yakni dasar-dasar agama atau akidah, dan belahan kedua adalah furu'uddin, yakni cabang-cabang agama atau hukum-hukum fikih dan akhlak. Dengan kata lain bahwa agama Islam itu terdiri dari tiga unsur penting dan utama. Unsur pertama adalah akidah, unsur kedua adalah fikih dan unsur ketiga adalah akhlak[iii].

Pada tataran amaliah (praktis), ketiga unsur ini tidak bisa dipisah-pisah satu sama lainnya, tidak bisa yang satu didahulukan dan yang lainnya diakhirkan. Tetapi ketiga unsur tersebut –pada tataran praktis- merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dan tidak boleh dipisah-pisah di dalam diri setiap muslim yang menginginkan Islamnya sempurna (kaffah).

Saya umpamakan sebagaimana garam yang tidak bisa dipisah dengan rasa asinnya atau sebagaimana gula yang tidak mungkin bisa dipisah dengan rasa manisnya. Garam ya asin dan gula ya manis, atau juga seperti air yang meliputi H2o yang tidak mungkin bisa dipisah-pisah satu sama lainnya. Ketika dipisah, maka bukan lagi air namanya. Begitulah gambaran mengenai agama Islam yang terdiri dari dua belahan penting.

Ketiga unsur tersebut tertuang dalam awamir (berbagai perintah) dan nawahi' (berbagai larangan). Setiap syari'at Ilahi yang berupa perintah-perintah dan berbagai larangan itu pasti membawa dan mengantarkan –paling tidak- dua macam hikmah; pendidikan dan pengajaran (At-Tarbiyyah wa At-Ta'lim).

Peristiwa Kurban Merupakan Realita

Masalah perintah Ilahi kepada Nabi Ibrahim As agar mengorbankan putra kesayangannya Ismail As dengan cara menyembelihnya bukan lagi sebagai asumsi belaka, bahkan merupakan realita yang sudah menjadi keyakinan dan keimanan bagi seluruh kaum Muslimin. Karena perintah dan peristiwa tersebut telah direkam oleh kitab suci Alquran al-Karim dengan sangat jelas yang tidak ada kesamaran dan keraguan bagi yang memahaminya[iv] (termasuk Muhkamat dan bukan Mutasyabihat.(

Bahkan masalah kurban, itu sudah ada sejak manusia pertama diturunkan ke muka bumi ini. Qabil (yang akhirnya membunuh saudaranya; Habil) berkurban dengan seekor kambing, sedangkan Habil berkurban dengan beberapa ikat gandum. Mereka berdua berkurban sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Tetapi kurban Qabil ditolak Allah, selain tidak dilandasi dengan keikhlasan, ia juga mengurbankan seekor domba yang kurus. Sementara kurban Habil diterima oleh Allah karena dilandasi dengan keikhlasan dan ketakwaan[v].

Begitulah, seseorang yang hanya mampu berkurban dengan seekor ayam jika dilandasi dengan keikhlasan dan ketakwaan, pasti akan diterima oleh Allah Swt. Sebaliknya seseorang yang berkurban dengan ratusan sapi ataupun mengorbankan diri, nyawa dan keluarganya dan seluruh harta kekayaannya, tetapi jika tidak dilandasai dengan keikhlasan dan ketakwaan (tidak dengan jalan yang benar), maka akan tertolak.

Rukyah Shadiqah (Mimpi Benar)

Adapun masalah mimpi, tergantung siapa yang mimpi. Ya betul, mimpiku, mimpi Anda dan mimpi-mimpi kita semua memang termasuk "Adhghatsu Ahlam", karena mimpi-mimpi kita itu hanyalah merupakan refleksi khayalan dan waswasah belaka. Lain halnya dengan mimpi-mimpi para nabi, para wali dan urafa'. Tidak ada khayaan dan angan-angan kosong di dalam diri (nafs) mereka. Yang ada hanyalah realita, waqi'iyyat dan haqiqat. Karena itu mimpi-mimpi mereka termasuk "rukyah shadiqah"[vi] (mimpi benar).

Kenapa mimpi-mimpi kita itu hanya sebagai "adhghatsu ahlam" belaka? Dan bagaimana memang dengan mimpi para nabi dan wali Allah?

Mimpi itu bisa merupakan gambaran bathiniyah manusia. Karena melekatnya diri (nafs) kita ini dengan manisnya materi duniawi yang menggiurkan, karena cintanya kita kepada kehidupan dunia dan karena hati, akal dan ruh (nafs) kita ini masih penuh dengan berbagai kotoran dan akhlak yang buruk, maka mimpi-mimpi kitapun di dalam tidur kita hanya sebatas "adhghatsu ahlam" belaka, dan tidak akan mencapai realita dan haqiqat. Selama kita asyik tenggelam dalam lautan "ghaflah" (kelalaian materi duniawi), maka mustahil bagi kita untuk dapat mencapai makam relita dan haqiqat[vii] (لقد کنت فی غفلة من هذا).

Adapun mimpi-mimpi mereka (para nabi dan wali Allah) telah bersih dan jauh dari "adhghatsu ahlam". Hal itu karena mereka telah melewati lautan "ghaflah" (kelalaian), dan mereka telah memasuki lautan "kasyf" atau "mukasyafah" (makam syuhudi) dimana mereka –dengan mata hati mereka- telah mampu memandang "haqiqat segala sesuatu kama hiya". Sehingga –dengan penuh adab dan penuh penghormatan- Allah Swt berkhithab kepada mereka:

"فکشفنا عنک غطاءک، فبصرک الیوم حدید"....

"Sungguh –berkat upayamu yang sungguh-sungguh dalam meningkatkan ilmu, iman dan takwa serta membersihkan hati (nafs) mu dari berbagai kotoran duniawi dan sifat-sifat buruk- kini Kami telah menyingkapkan tabir tebal yang menghalangimu untuk memandang haqiqat segala sesuatu, sehingga pada saat ini pandangan mata batinmu menjadi sangat tajam".[viii]

Nah, dengan tersingkapnya tabir tebal tersebut, maka mereka (para nabi dan wali Allah) mampu melihat haqiqat segala sesuatu dalam keadaan yang sebenarnya (kama hiya),[ix] sekalipun di dalam mimpi-mimpi mereka.

Bahkan diantara mereka ada yang mengatakan bahwa "haqiqat" segala sesuatu yang mereka lihat di malam hari dan pada kondisi badan unshuri (materi) mereka sedang beristirahat, itu lebih jelas dan lebih terang, dibandingkan dengan haqiqat yang mereka saksikan pada siang hari. Dan "ilmu-ilmu Ilahi" yang mereka peroleh pada kondisi seperti itu (ketika istirahat di malam hari) lebih banyak dan lebih tajam dibandingkan dengan "ilmu-ilmu Ilahi" yang mereka peroleh pada siang hari, yaitu ketika mereka berada di alam katsrah (alam materi)[x]. Karena itulah, bisa jadi, "maut ikhtiyari" yang mereka lakukan pada malam hari itu lebih banyak dan lebih lama dibandingkan dengan di siang hari. Apabila manusia biasa (bukan maksum), seperti Ayatullah Syaikh Bahjat Qs (sebagaiamna kesaksian Imam Khomeini Ra), mampu melakukan "maut ikhtiyari", tentu lebih awla dengan para nabi dan para maksumin As (Rasulullah Saw dan Ahlubait beliau As).

Karena itu, jangan sekali-kali kita melakukan analogi atas mimpi-mimpi kita yang sangat suka dengan kotoran materi duniawi ini dengan mimpi-mimpi para nabi (termasuk Nabi Ibrahim As) dan mimpi-mimpi para maksumin As dan juga para urafa'.

Oleh karena itu dikatakan bahwa "Perintah-perintah yang datang kepada mereka lewat mimpi, adalah merupakan syari'at yang harus dijalankan, karena perintah-perintah itu datangnya dari Allah Swt. Sementara berbagai peristiwa yang kita alami dan kita rasakan di dalam mimpi-mimpi kita tidak memiliki nilai Ilahiyah sama sekali, lantaran hati (nafs) kita ini masih penuh dengan berbagai "penyakit hati" dan kotoran duniawi".

"Selama akal dan hati (nafs) kita ini masih lebih suka kepada wanita yang hidungnya mancung dan kulitnya putih, lebih senang kepada rumah dan gedung yang megah, mobil yang mahal dan mewah, halaman dan tanah yang luas, makanan dan minuman yang enak dan lezat, dompet atau ATM yang penuh dengan dolar dan berbagai kenikmatan duniawi lainnya, maka kita tidak akan pernah merasakan kelezatan dan kenikmatan apa yang kita lihat dan kita rasakan di dalam mimpi, dan hal-hal lainnya yang bersifat nonmateri, seperti ilmu Ilahi, keimanan, ketakwaan, kekhusyu'an dan tenggelam dalam salat, doa, tawassul, ziarah dan lain sebagainya".

Perlunya Memahami Perbedaan Pandangan

Perlu dipahami bahwa pandangan manusia itu berbeda-beda, tergantung pengetahuan, pengalaman dan pengamalannya. Terlebih lagi pandangan dan penilaian Allah Swt. Kebanyakan umat manusia merasa heran dengan perintah Allah semacam itu, karena kebanyakan manusia belum memahami tentang bagaimana menilai suatu perbuatan dan menilai tujuan dan hasilnya yang akan dicapai dari perbuatan tersebut. Jika hal ini sudah dipahami –walau sedikit- maka keheranan mereka pasti akan berkurang dan bisa sampai sirna sama sekali.

Pandangan anak-anak kecil berbeda dengan pandangan orang-orang dewasa dan orang-orang tua. Pandangan orang-orang yang bodoh dan sedikit ilmunya berbeda dengan pandangan para ilmuan dan ulama yang banyak dan mendalam ilmunya. Dan bahkan pandangan orang-orang yang pernah merasakan dan mengalami sesuatu pasti berbeda dengan pandangan orang-orang yang hanya mendengar tentang sesuatu tersebut tapi belum pernah melihat dan merasakannya. Misalnya sebagian orang yang pernah pergi ke negara lain seperti Libanon, Suriah atau Iran dan pernah menikmati manisnya buah tin, maka penilaian mereka atas buah tin itu pasti berbeda dengan penilaian Anda yang tidak pernah mencicipinya, namun hanya mendengar dan melihat gambarnya, walaupun di dalam Alquran telah disebutkan "Wattini Wazzaitun….". Singkatnya adalah penilaian dan pandangan manusia itu berbeda-beda. Karena itu kita tidak mungkin mengadakan analogi antara pandangan dan penilaian kita dengan pandangan dan penilaian para nabi dan maksumin As termasuk nabi Ibrahim As, apalagi dengan penilaian dan pandangan Ilahi.

Demikian pula, pandangan para maksumin As, seperti para nabi dan wali Allah, jauh berbeda dengan pandangan selain mereka (termasuk para sahabat, tabi'in dan kita di dalamnya). Karena itu, pandangan Allah Swt Sang Pencipta alam semesta dan manusia ini, pasti berbeda dengan pandangan makhluk-Nya; manusia. Ketika pandangan itu berbeda, maka pasti hasil penilaiannya pun akan berbeda pula. Lebih dari itu, menilai sesuatu itu, tidak cukup hanya dari sisi lahiriyahnya saja, bahkan dari sisi maknawiyah dan bathiniyahnya bisa menjadi lebih penting.

Jika hal itu sudah dapat dipahami, maka ketahuilah bahwa Allah Swt memandang dan menilai segala sesuatu –dari sisi materinya- semuanya sama. Allah Swt sama sekali tidak menilai dan memandang segala sesuatu dari sisi materi dan lahiriyah belaka. Tetapi Allah Swt memandangnya dari sisi ketakwaan, keikhlasan dan hal-hal maknawiyah lainnya. Di dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda:

إن الله لا ینظر إلی أجسامکم ولا إلی صورکم، و لکن ینظر إلی قلوبکم.

"Sesungguhnya Allah itu tidak memandang dan tidak menilai badan kalian dan juga tidak hanya bentuk lahiriyah kalian. Tetapi Allah memandang dan menilai hati (ruh dan nafs) kalian". [xi]

Karena itulah dengan tegas Allah berfirman:

لَنْ يَنالَ اللهَ لُحُومُها وَلا دِماؤُها وَ لكِنْ يَنالُهُ التَّقْوى‏ مِنْكُمْ

"Daging dan darah unta (yang kamu kurbankan) itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai-Nya".[xii]

إِنَّما يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقينَ

"Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".[xiii]

Dari uraian singkat di atas dapat dipahami bahwa bagi Allah Swt atau di sisi-Nya itu tidak ada bedanya sama sekali antara materi satu dengan yang lainnya. Tidak ada bedanya antara gunung emas dengan gunung batu, antara dolar dan dinar, antara istana raja dan gubuk jelata, antara mobil mewah dengan sepeda ontel, antara kulit putih dan kulit hitam, hidung mancung dan hidung pesek, antara seorang Ismail dengan seekor domba dan antara fisik seorang rasul dengan fisik manusia biasa.

قل ! إنما أنا بشر مثلکم...یوحی إليً...

"Katakanlah wahai Rasul ! Sesungguhnya aku secara fisik dan materi, tidak ada bedanya dengan kalian, aku hanya sebagai manusia biasa yang juga tunduk kepada undang-undang materi. Karena itu aku juga makan, minum, tidur dan pergi ke pasar. Yang membedakan aku dengan kalian hanyalah dari sisi makam nonmateri, yaitu bahwa aku ini menerima wahyu dari Allah, sedangkan kalian tidak. Karena itu aku diutus sebagai uswah dan tauladan buat kalian semua".[xiv]

Itulah pandangan dan penilaian Ilahi. Adapun pandangan dan penilaian kita biasanya hanya tertumpu pada hal-hal lahiriyah dan materi saja. Karena itu, kita merasa heran ketika Allah Swt menyuruh Nabi Ibrahim As agar mengorbankan anaknya dengan cara menyembelihnya. Dan kita tidak heran jika Allah menyuruh kita untuk mengorbankan sesuatu yang nampaknya bernilai kecil seperti sebagian uang dan harta kita. Di sisi Allah Swt tidak ada bedanya seseorang yang mengorbankan jiwanya, anaknya, isterinya, atau semua kekayaannya, dengan seseorang yang hanya mampu mengorbankan seekor domba atau pun seekor ayam. Allah Swt hanya memandang dan menilai ketakwaan dan keikhlasan dibalik semua itu.

Pandangan Mereka adalah Pandangan Allah

Demikian pula ketika seseorang telah sampai kepada makam tertentu (makam keempat dari makam dan derajat tauhid), seperti para nabi, para rasul dan wali Allah, maka pandangan dan penilaian mereka akan mendekati pandangan dan penilaian Allah juga[xv]. Sehingga di mata mereka pun (dalam hal materi) tidak akan ada bedanya antara naik unta dengan naik mobil mewah, antara tinggal di gedung bertingkat yang mewah dengan tinggal di gubuk reot, antara beristeri hidung mancung dan kulitnya putih dengan beristeri kulit hitam dan hidungnya pesek, antara makan ayam goreng dengan makan tahu tempe goreng, dan begitulah seterusnya. Sehingga di mata mereka pun tidak ada bedanya antara berkurban dengan nyawa mereka sendiri atau nyawa putra-putra mereka dengan berkurban dengan seekor domba. Semuanya milik dan titipan Allah, Dia berhak mengambilnya kapan saja dan hanya kepada-Nya lah semua itu akan kembali...

Bersambung…



[i] . QS. Al-Baqarah : 30.

[ii] . QS. As-Shaffat : 102.

[iii] . Taklid dalam Ajaran Syiah Imamiyah, hal. 5.

[iv] . QS. As-Shaffat : 100 – 107.

[v]. QS. Al-Maidah : 27.

[vi] . QS. Al-Fath : 27.

[vii]. QS. Qaf : 22.

[viii] . Idem.

[ix]. Hadis Rasul Saw: Allahumma Arina al-Asy-yaa Kama Hiya- Awali Liali juz 4, hal.132

[x] . Kajian Tafsir Ayatullah Jawadi Amuli H.

[xi]. Hadis Riwayat Muslim pada kitab al-Birr, Wasshilah wal Adab.

[xii]. QS. Al-Hajj: 37.

[xiii]. QS. Al-Maidah: 2.

[xiv] . QS. Al-Kahfi: 110.

[xv]. Hadis Qudsi riwayat al-Bukhari.